PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI, Mukti Sardjono, melalui Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, menyampaikan bahwa produksi minyak sawit mentah atau CPO dan minyak inti sawit atau PKO nasional tetap bertahan pada level tinggi sepanjang Juli 2025. Namun, tren ekspor menunjukkan penurunan yang perlu dicermati lebih lanjut oleh pelaku industri.

Menurut data GAPKI, produksi CPO pada Juli 2025 tercatat mencapai 5.113 ribu ton, meningkat 6,00 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 4.823 ribu ton. Sementara itu, produksi PKO juga mengalami kenaikan serupa sebesar 6,00 persen, dari 465 ribu ton menjadi 493 ribu ton.

"Secara kumulatif, produksi CPO dan PKO sepanjang Januari hingga Juli 2025 mencapai 33.495 ribu ton, naik 11,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai 30.146 ribu ton," kata Rawing kepada Borneonews pada Sabtu, 27 September 2025.

Kendati produksi menunjukkan tren positif, konsumsi dalam negeri justru mengalami penurunan tipis di berbagai sektor. Konsumsi oleokimia turun 3,65 persen menjadi 185 ribu ton dari 192 ribu ton pada bulan sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan adanya perlambatan permintaan bahan baku industri kimia berbasis sawit di pasar domestik.

"Sektor biodiesel juga mengalami penurunan konsumsi sebesar 2,69 persen, dari 1.080 ribu ton menjadi 1.051 ribu ton," katanya.

Penurunan ini dapat berdampak pada target pemanfaatan energi terbarukan nasional, mengingat biodiesel merupakan komponen penting dalam bauran energi Indonesia. GAPKI menyarankan agar pemerintah dan pelaku industri bersama-sama mengevaluasi faktor-faktor yang memengaruhi penurunan ini.

Konsumsi pangan berbasis sawit turut mengalami penurunan, meski dalam skala yang lebih kecil.

"Pada Juli 2025, konsumsi pangan tercatat sebesar 798 ribu ton, turun 0,25 persen dari bulan sebelumnya yang mencapai 800 ribu ton. Penurunan ini bisa disebabkan oleh fluktuasi musiman atau perubahan pola konsumsi masyarakat," bebernya.

GAPKI menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara produksi dan konsumsi, baik untuk pasar ekspor maupun domestik. Dengan produksi yang terus meningkat, diperlukan strategi distribusi dan pemanfaatan yang lebih adaptif agar industri sawit tetap berkontribusi optimal terhadap perekonomian nasional dan pembangunan berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/y)