BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menegaskan komitmennya untuk kembali meraih Piala Adipura, setelah dalam evaluasi tahap pertama tahun ini baru mampu memperoleh Sertifikat Adipura.
Bupati Kobar Nurhidayah, Rabu, 19 November 2025 mengatakan bahwa pengelolaan sampah kini menjadi isu strategis yang harus ditangani secara masif dari pusat kota hingga seluruh pelosok daerah.
“Pengelolaan sampah bukan lagi hanya urusan titik-titik tertentu di kota. Mulai hari ini, 81 desa dan 13 kelurahan harus terlibat penuh. Kita bekerja nonstop, optimal, dan terukur karena target kita jelas: mengembalikan Piala Adipura dan menuju Indonesia Bebas Sampah 2029,” tegas Bupati.
Bupati menjelaskan bahwa penilaian Adipura kini jauh lebih luas dan mengikuti arah kebijakan nasional melalui Perpres Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN, yang mengamanatkan target Indonesia Bebas Sampah 2029. Kabar itu menjadi tantangan besar, sebab kini seluruh wilayah administrasi Kobar ikut dinilai.
“Skor minimal 75 menjadi syarat mendapatkan Piala Adipura. Pada tahap pertama, kita masih berada di ambang batas sehingga baru mendapat sertifikat. Maka semua OPD dan masyarakat harus bergerak cepat, waktunya sangat singkat,” jelas Bupati.
Bupati menguraikan rangkaian rapat koordinasi yang telah dilakukan Pemkab Kobar dalam memperkuat strategi persampahan.
“Tanggal 30 Juni 2025 kami telah tetapkan kebijakan dan komitmen lintas sektor. Kemudian pada 2 September 2025, kita fokus pada teknis bersama camat, kepala desa, lurah, dan SOPD. Lalu 16 September 2025 kita libatkan dunia usaha dari sektor kehutanan, perkebunan, pertambangan hingga CSR. Semua elemen harus bersinergi,” jelas Bupati.
Sebelumnya Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kobar, Fitriyana menekankan bahwa standar penilaian Adipura telah meningkat sangat signifikan. Menurutnya, dibutuhkan perubahan besar dalam pola pengelolaan sampah.
“Peran camat, kepala desa, dan lurah sekarang menjadi garda terdepan. Penilaiannya tidak lagi hanya soal kebersihan jalan protokol. Ini sudah menyentuh sistem persampahan terintegrasi, dari hulu ke hilir, termasuk pemilahan sampah dari sumbernya,” jelas Fitriyana.
Fitriyana juga menyebut bahwa keberhasilan Kobar meraih Piala Adipura sebanyak 13 kali berturut-turut harus menjadi motivasi bersama.
“Standarnya naik, tanggung jawabnya ikut naik. Kita butuh komitmen penuh masyarakat, dunia usaha, akademisi, media, dan pemerintah daerah,” jelas Fitriyana. (WAHYU KRIDA/y)









