PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan industri sawit Indonesia di tengah dinamika sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan global yang bergerak sangat cepat. Komoditas kelapa sawit, sebagai sektor strategis nasional, turut terdampak oleh perubahan global tersebut.

Menurut Rawing, Indonesia masih menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan produksi mencapai 47–50 juta ton per tahun dan luas areal 16,38 juta hektare berdasarkan Statistik Perkebunan 2024 Ditjen Perkebunan.

“Industri sawit adalah industri padat karya yang menghidupi jutaan masyarakat. Perannya sangat besar dalam menopang kesejahteraan rakyat,” kata Rawing kepada Borneonews pada Jumat, 21 November 2025.

Meski demikian, Rawing mengakui bahwa industri sawit nasional masih menghadapi beragam tantangan, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Tantangan tersebut meliputi produktivitas yang masih rendah, keterbatasan kualitas sumber daya manusia, keberadaan kebun yang masuk kawasan hutan, persoalan legalitas lahan, serta terbatasnya modal usaha. Di sisi lain, rantai pasok yang panjang dan program hilirisasi yang belum optimal juga menjadi pekerjaan besar bagi sektor ini.

Rawing menambahkan, tekanan terhadap industri sawit juga datang dari isu-isu lingkungan yang terus disuarakan oleh lembaga internasional.

“Ini menjadi tantangan berat, terutama ketika kampanye negatif diarahkan untuk melemahkan posisi sawit di pasar global,” tutur Dosen Ilmu Pertanian, Universitas Kristen Palangka Raya ini lagi.

Untuk menjaga daya saing dan keberlanjutan industri, Rawing menilai diperlukan langkah-langkah strategis yang terukur. Di antaranya peningkatan produktivitas dan produksi sawit, penyelesaian status kawasan, diversifikasi produk turunan sawit, pelestarian lingkungan, serta memperluas akses pasar minyak sawit Indonesia.

“Dengan upaya-upaya tersebut, kita optimistis kelapa sawit tetap mampu menjadi komoditas andalan, penopang utama perekonomian nasional, penyedia lapangan kerja besar, sekaligus bagian dari solusi global untuk pangan dan energi berkelanjutan,” tegas Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini. (TESTI PRISCILLA/y)