PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Penipuan digital makin marak, dan pelakunya ternyata pintar memainkan psikologi korban. Kepala OJK Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, memetakan ada lima modus utama yang biasa dipakai scammer.

“Tujuannya jelas, yaitu menjebak orang agar lengah dan akhirnya rugi,“ kata Primandanu pada Minggu, 18 Januari 2026.

Modus pertama, kata Primandanu, menyamar jadi orang penting. Pelaku pura-pura jadi polisi, petugas pajak, atau pegawai instansi resmi. Dengan identitas palsu, mereka bikin korban percaya dulu, baru melancarkan aksi.

“Modus kedua, yaitu bikin panik lewat kabar mengejutkan. Korban ditelepon, lalu diberi kabar darurat—misalnya keluarga kecelakaan atau sakit parah. Saat panik, korban lebih mudah mengikuti instruksi, termasuk mengirim uang,“ jelasnya.

Modus ketiga, lanjutnya, ialah menyasar orang kesepian. Kesepian sering jadi celah. Korban yang butuh teman gampang terjebak rayuan pelaku, bahkan ada kasus lintas negara.

“Minggu lalu, pelaku berhasil menjaring korban dari berbagai negara,” kata Primandanu.

Modus keempat, yakni memancing dengan iming-iming untung cepat. Investasi murah, pinjaman bunga rendah, atau janji keuntungan instan. Keserakahan bikin korban lengah, padahal ujungnya jebakan.

“Menggoda lewat hiburan murah meriah menjadi modus berikutnya. Diskon belanja online, paket liburan murah, atau layanan hiburan lain yang tampak menarik. Semua dikemas seolah-olah menguntungkan,“ bebernya.

Primandanu menegaskan, semua trik ini menunjukkan pelaku sangat paham kondisi psikologis korban. Karena itu, masyarakat diminta lebih cerdas secara digital dan jangan mudah tergiur tawaran yang terdengar terlalu indah untuk jadi kenyataan. (TESTI PRISCILLA/H)