PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya bekerja sama dengan Satgaswil Kalteng Densus 88 AT Polri menyelenggarakan sosialisasi dalam rangka Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah SMP Negeri dan Swasta se Kota Palangka Raya, Rabu, 21 Januari 2026.

Kegiatan yang berlangsung di SMP Negeri 9 Palangka Raya mengangkat tema "Strategi Pencegahan Paham IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstrimisme dan Terorisme), Kekerasan dan Sadistis" dengan menghadirkan 54 kepala sekolah sebagai peserta.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayadi, menyampaikan terima kasih atas kolaborasi yang terjalin.

"Saya mengajak sekolah untuk berperan sebagai benteng moral dan kebangsaan, dengan harapan seluruh warga sekolah aktif menjaga lingkungan sekolah agar terbebas dari paham negatif dan terwujud suasana yang aman, damai, serta penuh kasih," kata Jayani.

Diwakili oleh Iptu Ganjar Satriyono, Katim Unit Idensos Pencegahan Satgaswil Kalteng Densus 88 AT Polri, pihak kepolisian menyampaikan fokus saat ini adalah pada pencegahan dan deteksi dini penyebaran paham radikalisme, kekerasan, dan sadistis kepada generasi muda melalui media sosial dan game online.

Menurutnya, platform tersebut kerap digunakan untuk mempengaruhi anak-anak dengan konten yang tidak pantas, termasuk penyimpangan seksual.

Sebagai contoh kasus, pada 7 November 2025 lalu terjadi peledakan bom rakitan di SMA Negeri 72 Jakarta yang dilakukan oleh siswa berinisial F. Pelaku terdorong karena merasa mengalami bullying, kesepian, dan tidak memiliki tempat untuk mengadu.

Investigasi menemukan bahwa pelaku beserta 68 anak di seluruh Indonesia tergabung dalam komunitas media sosial yang mengagumi kekerasan bernama Whatsapp Grup TTC (True Crime Community).

Iptu Ganjar menegaskan bahwa menangani masalah ini bukan hanya tugas kepolisian, melainkan tanggung jawab bersama.

Kepala sekolah dan guru diharapkan mampu merumuskan langkah pengawasan penggunaan media sosial siswa serta menjadi pendeteksi dini terhadap perubahan sikap, pola pergaulan, dan perundungan.

"Anak-anak bukan sasaran ideologi. Mereka adalah harapan, mimpi, dan masa depan bangsa. Mari kita jaga bersama lingkungan yang aman, damai, dan penuh kasih karena masa depan anak terlalu berharga untuk dirusak," pungkasnya. (PATHUR/H)