BORNEONEWS, Palangka Raya – Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya masih mengkaji penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) di tengah kondisi kabut asap yang melanda wilayah tersebut.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayani, menegaskan bahwa penerapan PJJ untuk UTS belum menjadi keputusan final. Saat ini, pihaknya masih membahas sejumlah opsi dengan sekolah untuk memastikan kegiatan ujian tetap dapat berjalan tanpa mengabaikan keselamatan peserta didik.
Salah satu opsi yang dikaji adalah sekolah menyediakan ruang yang lebih aman dari paparan asap apabila peserta didik tetap harus datang ke sekolah. Ruangan tersebut dapat dilengkapi dengan ventilasi dan kipas angin serta upaya lain untuk mencegah asap masuk.
“Untuk UTS, kalau PJJ, apakah sekolah bisa sediakan ruangan aman asap seperti ventilasi dan kipas angin untuk cegah asap masuk. Sekolah swasta sudah ada yang bersedia, lagi digodok,” kata Jayani, Selasa, 6 Oktober 2026.
Menurut Jayani, kesiapan sekolah menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan skema pelaksanaan UTS. Sebab, tidak semua sekolah memiliki kemampuan yang sama dalam menyediakan fasilitas untuk mengurangi paparan asap.
“Masalahnya ada sekolah yang tidak mampu,” ujarnya.
Ia mengatakan pihaknya juga telah mengajak sekolah membahas langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi masuknya asap ke ruang kelas. Terutama pada bangunan sekolah yang menggunakan konstruksi terbuka.
“Gedung SD kita ini pakai kawat terbuka, otomatis sediakan kain basah. Sudah saya ajak rapat,” katanya.
Dengan demikian, pelaksanaan UTS nantinya akan menyesuaikan kondisi dan kesiapan masing-masing sekolah serta perkembangan kualitas udara. PJJ menjadi salah satu opsi apabila kondisi tidak memungkinkan siswa mengikuti ujian secara tatap muka.
Jayani juga menyebut kesiapan orang tua menjadi bagian penting apabila sekolah tetap melaksanakan kegiatan dengan kehadiran siswa. “Tinggal orang tua siap atau tidak antar anak,” ucapnya.
Jika nantinya UTS diputuskan dilaksanakan melalui PJJ, Jayani optimistis kualitas pembelajaran tetap dapat terjaga. Bahkan, ia menilai pelaksanaan PJJ saat ini berpotensi lebih baik dibandingkan masa pandemi Covid-19 karena sekolah dan guru sudah memiliki pengalaman menerapkan pembelajaran jarak jauh.
“Kalau ujian ada PJJ, kualitas pembelajaran lebih bagus dari Covid,” tegasnya.
Di sisi lain, ia juga menyampaikan bahwa PJJ diperkuat untuk memastikan peserta didik tetap mendapatkan materi pembelajaran sekaligus meminimalkan risiko learning loss.
Jayani mengatakan, pihaknya telah menyiapkan dan mengoptimalkan peran tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan selama pelaksanaan PJJ.
Guru diarahkan menyusun, mengemas, dan memfasilitasi bahan ajar daring dengan mengutamakan materi-materi esensial agar dapat dipahami peserta didik meski proses pembelajaran tidak berlangsung secara tatap muka.
“Bahan ajar daring berbasis materi esensial disiapkan agar dapat dipahami dengan baik oleh peserta didik selama masa pembelajaran jarak jauh,” kata Jayani.
(MARINI/Y)









