SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akan menggelar rapat koordinasi menyikapi peningkatan hotspot dan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sejak Januari 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan rapat tersebut dijadwalkan dilaksanakan pada Kamis, 22 Januari 2026, guna mengevaluasi berbagai kejadian serta parameter dalam rencana kontinjensi karhutla.

“Dalam rencana kontinjensi, ada tiga parameter besar yang kami pertimbangkan. Pertama kejadian fire spot, yaitu lokasi yang sudah benar-benar terbakar dan melampaui batas aman. Kedua kondisi muka air tanah, di mana di beberapa titik kami tidak menemukan air lagi karena drainase mulai menyusut. Ketiga adalah hotspot,” ujar Multazam, Rabu, 21 Januari 2026.

Berdasarkan pemantauan terbaru, BPBD Kotim menerima laporan dari BMKG terkait tujuh hotspot yang tersebar di lima kecamatan. Bahkan, pada satu kecamatan terdeteksi hingga tiga hotspot dengan tingkat kepercayaan mencapai angka delapan, yang biasanya menandakan telah terjadi kebakaran di lokasi tersebut.

Selain peningkatan hotspot, Multazam juga mengungkapkan adanya lonjakan kejadian kebakaran dalam waktu hampir bersamaan. Pada 21 Januari 2026, tercatat tiga kejadian kebakaran di Jalan Bawi Jahawen, Jalan Robi, dan Desa Luwuk Bunter. Sebelumnya juga telah terjadi kebakaran lahan seluas 6 hektare di Ujung Pandaran pada Rabu, 15 Januari 2026.

“Sejak awal Januari memang terlihat peningkatan, baik dari jumlah hotspot maupun kejadian kebakaran. Curah hujan di Kotim yang kami pantau setiap hari juga tidak signifikan,” katanya.

Berdasarkan data BPBD Kotim, jumlah hotspot sepanjang Januari 2026 mencapai 54 titik. Angka tersebut menjadi yang tertinggi jika dibandingkan data bulan Januari pada periode 2023 hingga 2025.

“Kami tentu berharap tidak terjadi peningkatan, namun berdasarkan data base yang kami miliki, Januari 2026 ini merupakan yang paling tinggi,” imbuhnya.

Ia menambahkan, kondisi cuaca yang terjadi saat ini terbilang tidak biasa. Pasalnya, Januari umumnya masih diwarnai curah hujan tinggi, bahkan banjir di sejumlah wilayah.

“Kondisi eksisting terakhir ini di luar prediksi kami. Anomali cuaca ini menjadi perhatian bersama dan membutuhkan kewaspadaan semua pihak,” ucapnya.

BPBD Kotim mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar agar tidak terjadi karhutla.

"Kita jangan mengulang lagi kejadian yang lalu 2023, 2019, 2015. Kita berharap kesadaran masyarakat meningkat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Itu harus menjadi komitmen kita bersama. Kami pemerintah tidak bisa 100 persen menjaga lahan tetapi kesadaran masyarakat dengan tidak membuka lahan dengan cara membakar itu adalah yang terbaik," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)