BORNEONEWS, Sampit – Jumlah hotspot atau titik panas di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Januari 2026 mengalami lonjakan signifikan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat sebanyak 61 hotspot, menjadi angka tertinggi dalam empat tahun terakhir.
"Jumlah hotspot Januari 2026 tercatat 61 titik. Ini merupakan yang tertinggi sejak empat tahun terakhir dan ini berada pada tingkat kepercayaan 8, artinya berpotensi terbakar," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Kamis, 22 Januari 2026.
Ia menjelaskan, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, terjadi peningkatan yang cukup tajam. Pada Januari 2023 tercatat 14 hotspot, Januari 2024 sebanyak 18 hotspot, dan Januari 2025 hanya 4 hotspot.
"Terjadi perlipatan yang cukup besar. Bahkan angka hotspot tahun 2026 ini hampir mendekati kondisi tahun 2016, sekitar 10 tahun lalu," ujarnya.
Multazam merinci, kemunculan hotspot di Kotim mulai terdeteksi sejak 14 Januari 2026. Secara harian, sebaran hotspot tercatat fluktuatif dengan kecenderungan meningkat.
"Pada 14 Januari terpantau 15 hotspot, 15 Januari 9 titik, 16 Januari 6 titik, 17 Januari 8 titik, 18 Januari 10 titik, 19 Januari 6 titik, 20 Januari 7 titik, dan pada 21 Januari melonjak menjadi 16 titik," paparnya.
Selain peningkatan hotspot, kondisi penurunan muka air juga memperparah potensi kebakaran. BPBD Kotim mencatat penurunan muka air tanah hingga minus 35 sentimeter, sehingga menyulitkan upaya pemadaman.
"Muka air tanah turun hingga -35 cm. Kami melihat di beberapa ring drain di wilayah Sampit, air sudah sangat sedikit, sehingga ketika terjadi kebakaran, proses pemadaman menjadi sangat sulit," tambah Multazam.
BPBD Kotim mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran di lingkungan sekitar. (DEWI PATMALASARI/y)









