BORNEONEWS, Sampit – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Multazam K. Anwar, mengingatkan potensi tinggi kebakaran lahan gambut di wilayah selatan daerah ini yang dinilai sangat berisiko dan sulit diatasi.
“Di daerah selatan lahan gambut cukup tebal, apalagi di Pulau Hanaut kedalamannya mencapai 16 meter, " katanya, Kamis, 22 Januari 2026.
Ia mengungkapkan dengan ketebalan gambut tersebut jika terjadi kebakar akan sangat sulit dipadamkan, meski di permukaan nampak padam namun pada bagian bawah yaitu gambut masih menyala.
"Jadi pemadaman memerlukan waktu cukup lama. Jika tidak dapat menimbulkan api dan membakar lahan yang kering," imbuhnya.
Pernyataan ini disampaikan dalam rapat evaluasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang digelar untuk mengkaji situasi dan upaya penanggulangan.
Lebih lanjut ia mengungkapkan berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotim, masih berpotensi mengalami kebakaran lahan.
"Kalau dilihat dari rilis BMKG Kalteng berpotensi terbakar karena semua merah. Jadi antisipasi perlu dilakukan, " ungkapnya.
Ia menyebut selama tahun 2026, luas lahan terbakar di Kotim tercatat mencapai 6,5 hektar dengan titik terbakar paling luas teridentifikasi di wilayah selatan.
“Data ini penting untuk dijadikan dasar dalam meningkatkan pengawasan dan kesiapsiagaan kita terhadap risiko kebakaran di masa mendatang,” tegas Multazam.
Kondisi sulitnya akses di beberapa titik bertambah dengan karakteristik gambut yang sangat tebal, sehingga membutuhkan penanganan khusus dan teknologi pemadaman yang memadai. Pemerintah daerah bersama pihak terkait terus melakukan koordinasi untuk memaksimalkan upaya pencegahan dan mitigasi kebakaran lahan.
“Kita perlu terus waspada dan melakukan langkah-langkah strategis agar potensi kebakaran di wilayah rawan dapat diminimalisir, " katanya. (DEVIANA/y)









