BORNEONEWS, Sampit – Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dua jenis penyakit yang biasanya meningkat selama musim kemarau, yakni diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Kalau terkait dengan kemarau biasanya ada dua penyakit yang sering berkembang, yaitu diare dan ISPA, " kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, Jumat, 23 Januari 2026.
Kemarau berpengaruh terhadap ketersediaan air bersih. Sehingga sebagian masyarakat sering menggunakan air yang tidak memenuhi standar kebersihan, yang terkontaminasi bakteri seperti E. coli, Salmonella,virus, atau parasit yang dapat menyebabkan diare.
Selain itu, kemarau juga membuat udara menjadi lebih kotor atau berdebu apalagi ditambah dengan asap kebakaran hutan dan lahan yang mulai terjadi di Kotim. Jika asap dan partikel debu halus tersebut masuk ke saluran pernapasan dapat merusak lapisan pelindung saluran napas dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi virus/bakteri penyebab ISPA seperti virus influenza, virus syncytial pernapasan, atau bakteri Streptococcus pneumoniae.
“Untuk diare sendiri, biasanya yang paling fatal jika terlambat mendapatkan penanganan. Kalau ada pasien diare segera dilakukan pengobatan baik di rumah atau bawa ke fasilitas kesehatan," terangnya.
Berdasarkan info dari BMKG pada dasarian III Januari 2026 ini potensi hujan sangat rendah. Cuaca panas membuat udara berdebu ditambah lagi di sejumlah kecamatan di daerah tersebut telah terjadi kebakaran lahan. Ini membuat udara semakin kurang sehat.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat serta memperkuat ketahanan tubuh agar terhindar dari penyakit yang rentan muncul saat cuaca panas dan kering seperti yang terjadi di Kotim saat ini.
Edukasi tentang pencegahan diare dan ISPA juga terus digalakkan di berbagai fasilitas kesehatan dan komunitas.
Langkah-langkah pencegahan dan penanganan dini diharapkan dapat mengurangi dampak penyakit ini selama musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur. (DEVIANA/H)









