SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menggencarkan penemuan kasus tuberkulosis (TBC) melalui kegiatan tracing atau pelacakan kasus. Upaya tersebut salah satunya diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, mengatakan terdapat 48 titik yang menjadi fokus kegiatan tracing TBC pada tahun ini.

"Jadi tracing TBC ini diprogramkan terintegrasi dengan CKG. Ada 48 titik yang menjadi fokus di tahun ini," ujarnya, Kamis, 20 Agustus 2026.

Menurutnya, secara grafik kasus TBC di Kotim saat ini mengalami peningkatan. Namun, kondisi tersebut tidak semata-mata menunjukkan semakin banyaknya penularan, melainkan juga karena upaya penemuan kasus dilakukan secara lebih optimal.

Nugroho menyebut Dinkes memang menargetkan penemuan kasus TBC meningkat pada 2026 dan 2027. Dengan semakin banyak kasus yang ditemukan dan ditangani lebih awal, diharapkan angka kasus dapat mulai menurun pada tahun-tahun berikutnya.

"Target kami di 2026-2027 ini kasus TBC meningkat, dengan harapan 2028 seterusnya turun untuk mencapai target nasional," jelasnya.

Selain melalui CKG, penemuan kasus juga dilakukan dengan investigasi kontak (IK). Upaya ini dilakukan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.

Menurut Nugroho, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu penderita TBC berpotensi menularkan penyakit kepada sekitar 15 orang. Sementara Kementerian Kesehatan menargetkan sedikitnya delapan orang dilakukan investigasi kontak dari setiap satu penderita TBC.

Adapun target nasional eliminasi TBC pada 2030 adalah penemuan kasus sebesar 65 per 100.000 penduduk. Sementara angka penemuan kasus di Kotim saat ini masih berada di kisaran lebih dari 100 per 100.000 penduduk.

"Oleh sebab itu tracing ini gencar kita lakukan. Kegiatan itu sudah mulai lakukan sejak kemarin di Desa Telaga Baru Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, " tutupnya. (DEVIANA/H)