BORNEONEWS, Sampit – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir terjadi sejumlah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kotim. Namun, tidak seluruh titik kebakaran dapat dijangkau oleh petugas di lapangan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan keterbatasan akses dan kondisi lapangan menjadi kendala utama dalam upaya pemadaman karhutla. Beberapa lokasi kebakaran berada di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat, sehingga penanganan tidak dapat dilakukan secara maksimal.
"Kemarin memang ada beberapa kejadian kebakaran, tetapi ada yang tidak bisa kami jangkau karena keterbatasan akses," ujar Multazam, Rabu, 28 Januari 2026.
Terkait kemungkinan penggunaan helikopter untuk pemadaman dari udara, Multazam menjelaskan bahwa hal tersebut berkaitan langsung dengan penetapan status bencana di tingkat provinsi. Menurutnya, pengajuan penggunaan unit helikopter bukan kewenangan pemerintah kabupaten.
"Kalau untuk unit helikopter, itu berkaitan dengan status bencana tingkat provinsi. Permintaan penggunaan heli nantinya akan disampaikan oleh BPBPK Provinsi," imbuhnya.
Adapun sebelumnya, Pemkab Kotim telah menetapkan status Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) selama 30 hari, terhitung mulai 23 Januari hingga 21 Februari 2026. Sejak penetapan status tersebut, kejadian karhutla terus bertambah.
BPBD Kotim mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan, terutama di tengah kondisi cuaca yang rawan memicu kebakaran.
"Kita tidak berharap kondisi ini kemudian membuat masyarakat dengan ceroboh membuka lahan dengan cara dibakar, kita tidak merestui itu. Karena kecepatan angin masih 7 hingga 10 km/jam pada jam-jam tertentu dari arah barat, barat laut dan itu potensi terjadi size up atau perluasan," pungkas Multazam. (DEWI PATMALASARI/y)









