SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, Multazam K. Anwar, mengungkapkan kebutuhan mendesak BPBD saat ini adalah penambahan unit selang pelempar berukuran 1,5 inci yang sangat terbatas jumlahnya.

“Kami sekarang punya stok selang pelempar ukuran 1,5 inci sebanyak 46 buah di kantor. Kami sebenarnya memerlukan itu," katanya, Selasa, 28 April 2026.

Menurutnya, stok yang tersisa tersebut belum mencukupi untuk kebutuhan operasional pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang cukup tinggi. Sebab, rata-rata satu unit water tanki membutuhkan 15 sampai 20 unit selang pelempar. Selang tersebut biasanya hanya mampu digunakan selama 10 sampai 15 hari dalam operasi tanggap darurat.

“Kami sudah sampaikan dalam rapat koordinasi teknis dan bupati memerintahkan kami untuk melakukan mapping anggaran, serta mengusulkan percepatan perubahan APBD. Itu nantinya akan dikoordinasikan dengan PJ Sekda dan BKAD agar kebutuhan selang pelempar bisa terpenuhi,” jelasnya.

Ia menambahkan selain unit lengkap koordinasi terus dilakukan oleh pihaknya terutama di daerah rawan bencana karhutla. Ia menyebutkan wilayah rawan bencana karhutla di Kabupaten Kotim meliputi Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, Mentawa Baru Ketapang, Baamang, dan Cempaga yang semuanya masuk kategori risiko tinggi.

Lebih lanjut, guna mengantisipasi dan mengkoordinasikan penanggulangan bencana tersebut, posko komando yang dimiliki hanya tingkat kabupaten. Posko ini menjadi pusat koordinasi yang diisi berbagai unsur seperti TNI dan Kepolisian.

“Posko komando hanya ada milik kabupaten. Kalau posko itu diaktifkan, TNI, Polri akan bergabung di dalamnya,” jelas Multazam.

Sementara untuk tingkat kecamatan dan desa, disediakan pos lapangan yang berfungsi sebagai pos pendamping yang akan bekerja sama dengan badan nasional dan unsur lainnya. Multazam mengajak agar penanggulangan Karhutla dapat menjadi tanggung jawab bersama secara patungan antar pihak terkait.

“Pos lapangan di kecamatan dan desa akan menjadi pendamping. Kita harus bersinergi dan patungan supaya penanggulangan bencana bisa berjalan efektif,” tutupnya.

Melalui upaya pemenuhan kebutuhan sarana prasarana seperti selang pelempar dan koordinasi antar instansi, BPBD Kotim berharap kesiapsiagaan penanggulangan Karhutla semakin maksimal sehingga risiko kebakaran dapat diminimalisir. (DEVIANA/H)