PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Otoritas Jasa Keuangan atau OJK mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan anggaran keuangan pribadi secara bijak dalam kegiatan Kick Off Bulan Literasi Keuangan dan Launching Program Ekosistem Pusat Inklusif Keuangan Syariah atau EPIKS Tahun 2026 di Kota Palangka Raya.

Dalam pemaparannya, Analis Grup Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah OJK, Asadulloh Sefnado menjelaskan pola sederhana pengelolaan keuangan agar masyarakat dapat mengatur pendapatan secara seimbang antara kebutuhan, tabungan hingga kewajiban sosial.

Ia menyebutkan, alokasi anggaran keuangan pribadi dapat dibagi ke dalam beberapa pos utama agar kondisi finansial tetap sehat dan terkontrol.

“Pengelolaan keuangan yang baik bukan hanya soal memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyiapkan tabungan, investasi dan perlindungan keuangan di masa depan,” ujarnya dalam kegiatan edukasi tersebut pada Kamis, 21 Mei 2026.

Dalam materi yang disampaikan, Asadulloh menjelaskan sekitar 10 persen pendapatan dapat dialokasikan untuk kebutuhan ibadah dan sosial seperti zakat, infak, sedekah hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

Selanjutnya, sekitar 20 persen pendapatan disarankan untuk tabungan, investasi dan proteksi keuangan. Menurut dia, masyarakat perlu membiasakan menyisihkan dana tabungan terlebih dahulu sebelum menggunakan penghasilan untuk kebutuhan lain.

“Tabungan dan investasi penting untuk menghadapi kebutuhan jangka panjang maupun kondisi darurat,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat bijak dalam berutang. OJK menyarankan porsi cicilan utang tidak melebihi 30 persen dari total pendapatan agar tidak membebani kondisi keuangan rumah tangga.

“Jangan sampai terjebak pinjaman berbunga tinggi atau rentenir yang justru memperburuk kondisi finansial,” tegasnya.

Sementara sisa sekitar 40 persen pendapatan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kesempatan itu, masyarakat juga diingatkan untuk mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan serta rutin mencatat pengeluaran harian.

Asadulloh berharap edukasi tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih disiplin dalam mengelola keuangan dan membangun kebiasaan finansial yang sehat.

“Dengan pengelolaan anggaran yang tepat, masyarakat dapat lebih siap menghadapi berbagai kebutuhan dan risiko keuangan di masa depan,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/H)