PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalimantan Tengah melakukan kunjungan ke salah satu kebun kelapa sawit anggota Gapki di Kabupaten Seruyan, Senin, 25 Mei 2026. 

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan produktivitas perkebunan sawit berkelanjutan di Indonesia.

Ketua Gapki Kalteng, Au Rizky Djaya mengatakan, peningkatan produktivitas sawit menjadi fokus utama melalui berbagai strategi, termasuk mekanisasi dan percepatan produksi di sektor perkebunan.

“Tujuan kegiatan hari ini intinya adalah meningkatkan produktivitas perkebunan sawit, dengan berbagai strategi mekanisasi, percepatan-percepatan produksi yang akan kita capai, agar sawit berkelanjutan ini dapat kita pertahankan di Republik yang sangat kita cintai ini,” jelas Au Rizky Djaya.

Au Rizky Djaya menilai keberlanjutan industri sawit juga harus diimbangi dengan dukungan regulasi yang berpihak pada keberlangsungan industri tersebut dalam jangka panjang.

“Kita sudah begitu susah payah untuk menghasilkan yang terbaik, tetapi regulasinya juga harus disesuaikan. Karena tidak ada artinya kalau misalnya kita bersemangat dalam industri ini agar menjadi lebih baik, tetapi tidak dipikirkan perkembangannya kedepan,” jelas Au Rizky Djaya

Menurutnya, industri sawit memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah maupun nasional, terutama dalam penyerapan tenaga kerja dan pemasukan daerah.

“Manpower atau tenaga kerja yang ditampung oleh perusahaan perkebunan sawit yang juga memberikan kontribusi kepada PAD dan pendapatan daerah ini sangat harus dipertahankan untuk jangka panjang dan berkesinambungan,” jelas  Au Rizky Djaya.

Au Rizky Djaya menambahkan, berbeda dengan sektor berbasis sumber daya fosil yang memiliki masa habis produksi, perkebunan sawit dinilai mampu terus berlanjut melalui program peremajaan atau replanting.

“Kalau sawit ini sifatnya berkesinambungan. Dua puluh lima tahun, kemudian kita replanting, tanam kembali 25 tahun ke depan, demikian berkelanjutan,” katanya.

Au Rizky Djaya juga menyoroti besarnya kontribusi industri sawit terhadap kebutuhan global. Menurutnya, Indonesia saat ini menjadi produsen sawit nomor satu di dunia dengan kontribusi sekitar 40 persen terhadap kebutuhan internasional.

“Kita harus berani menyampaikan apa kontribusi dari sawit itu sendiri terhadap Republik ini. Devisa yang ada, dana bagi hasil yang ada yang dikontribusikan oleh sawit itu saat ini sangat dirasakan,” jelas Au Rizky Djaya.

Au Rizky Djaya juga menyebut sawit memiliki ratusan produk turunan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dunia.

“Turunan dari sawit ini sangat dimanfaatkan oleh semua negara. Mungkin ada 102 turunan yang luar biasa untuk kehidupan kita dari pagi hari sampai malam hari mau tidur, itu sudah ada kontribusi dari sawit itu sendiri,” jelas Au Rizky Djaya.

Selain itu, menurut  Au Rizky Djaya, Gapki juga meminta adanya regulasi yang mendukung daya saing industri sawit nasional di tengah persaingan minyak nabati dunia seperti bunga matahari dan kedelai.

“Kita perlu regulasib yang juga pro terhadap industri sawit. Kita tahu kita punya saingan minyak bunga matahari, kacang kedelai dan sebagainya. Itu bagian dari persaingan bisnis,” jelas Au Rizky Djaya.

Ia berharap seluruh pihak, termasuk media, bisa menyampaikan sisi positif industri sawit untuk masa depan ekonomi Indonesia.

“Semua pihak termasuk rekan media juga harus berani menyampaikan hal positif ke depan untuk bangsa ini. Karena industri kelapa sawit kepentingannya untuk orang banyak dan masa depan ketenagakerjaan di Indonesia,” pungkasnya. (WAHYU KRIDA/y)