BORNEONEWS, Palangka Raya - Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Provinsi Kalimantan Tengah bersama Bursa Efek Indonesia atau BEI Kalimantan Tengah kembali memperkuat literasi dan inklusi keuangan melalui penyelenggaraan Sekolah Pasar Modal bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Gunung Mas. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Road to Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu atau SEPMT Tahun 2026.
Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, mengatakan edukasi pasar modal menjadi langkah penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya ASN, terhadap investasi yang legal, aman, dan sesuai dengan profil risiko masing-masing.
"Melalui kegiatan ini, OJK bersama BEI berkomitmen terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan, khususnya di sektor pasar modal. Kami ingin mendorong ASN menjadi masyarakat yang semakin cerdas dan bijak dalam mengambil keputusan keuangan serta memanfaatkan produk investasi yang legal dan berizin," ujar Primandanu dalam rilisnya pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai mekanisme investasi di pasar modal, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk memanfaatkan berbagai instrumen investasi secara bertanggung jawab.
"Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pasar modal sekaligus memperkuat ketahanan finansial," tuturnya.
Primandanu mengungkapkan, jumlah investor pasar modal di Kalimantan Tengah terus menunjukkan tren positif. Hingga April 2026, jumlah investor tercatat mencapai 225.128 investor. Kabupaten Gunung Mas memberikan kontribusi sebanyak 9.127 investor atau sekitar 4,05 persen dari total investor di provinsi tersebut.
"Selain pertumbuhan jumlah investor, aktivitas transaksi saham di Kabupaten Gunung Mas juga meningkat signifikan," bebernya.
Pada April 2026, nilai transaksi saham mencapai Rp13,84 miliar, naik Rp9,04 miliar atau 191,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Capaian tersebut menjadi indikator meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi di pasar modal sekaligus menunjukkan pentingnya penguatan edukasi agar pertumbuhan tersebut diikuti dengan pemahaman yang memadai," jelasnya lagi. (TESTI PRISCILLA/H)









