BORNEONEWS, Palangka Raya – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Kota Palangka Raya dan kerap tidak sesuai jadwal menimbulkan keluhan dari masyarakat. Sejumlah warga mengaku terpaksa membeli generator set (genset) agar aktivitas rumah tangga maupun usaha tetap berjalan, namun di sisi lain harus menghadapi tingginya biaya pembelian bahan bakar.
Ketidakpastian waktu pemadaman dinilai menyulitkan masyarakat dalam mengatur aktivitas sehari-hari. Pelaku usaha kecil seperti warung makan, toko kelontong, hingga usaha minuman mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengoperasikan genset agar usaha tetap buka saat listrik padam.
Seorang warga, Herry, mengatakan awalnya membeli genset untuk mengantisipasi pemadaman listrik. Namun, pengeluaran justru bertambah karena harus membeli bensin hampir setiap hari ketika pemadaman berlangsung cukup lama.
"Bukan hanya beli genset yang mahal, biaya operasionalnya juga besar karena harus beli BBM terus. Kalau listrik padam di luar jadwal, kami juga tidak siap," katanya, Rabu 29 Juli 2026.
Keluhan serupa disampaikan pelaku UMKM, Diang yang menyebut biaya operasional usaha meningkat akibat penggunaan genset. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada kenaikan harga barang maupun jasa karena pelaku usaha harus menutup tambahan biaya produksi.
"Kami berharap PLN dapat memberikan informasi jadwal pemadaman yang lebih akurat dan konsisten agar warga maupun pelaku usaha dapat melakukan antisipasi," bebernya.
Ia juga meminta percepatan penanganan gangguan kelistrikan sehingga pemadaman bergilir tidak berlangsung berkepanjangan. Diang menilai persoalan listrik tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga memengaruhi perekonomian masyarakat.
"Ketika biaya operasional terus meningkat akibat penggunaan genset dan konsumsi bahan bakar, beban rumah tangga maupun pelaku usaha seperti kami menjadi semakin berat di tengah kondisi ekonomi yang menuntut efisiensi," tambahnya. (MARINI/H)









