PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - SMAN 2 Kuala Kapuas memastikan seluruh dana yang telah dibayarkan oleh 21 calon peserta didik jalur offline telah dikembalikan kepada masing-masing orang tua.

Pengembalian tersebut dilakukan dalam pertemuan antara pihak sekolah dengan para wali murid pada Rabu, 29 Juli 2026, menyusul keputusan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah yang tidak menyetujui penambahan kuota rombongan belajar.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMAN 2 Kuala Kapuas, Setia Rini, mengatakan pengembalian dana mencakup seluruh pembayaran yang sebelumnya telah disetorkan untuk kebutuhan perlengkapan sekolah. Menurutnya, langkah itu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab sekolah setelah dipastikan ke-21 calon siswa tidak dapat diterima karena keterbatasan kuota.

"Yang sudah dibayarkan almamater, batik, kemudian atribut dengan baju olahraga. Kemudian ada juga yang sudah membayar sumbangan untuk kegiatan PBT. Nah, uang itu sudah dikembalikan kepada orang tuanya kemarin pada saat pertemuan kita tanggal 29," ujar Setia Rini kepada Borneonews, Kamis, 30 Juli 2026.

Ia menegaskan, hingga saat ini persoalan pengembalian dana tersebut telah selesai dan tidak lagi menjadi kendala. Seluruh pembayaran yang diterima sekolah telah dikembalikan kepada orang tua siswa, sehingga tidak ada lagi kewajiban finansial yang masih tertahan di pihak sekolah.

Meski demikian, Setia Rini mengakui masih terdapat satu persoalan yang belum sepenuhnya tuntas, yakni mengenai meja dan kursi yang sebelumnya telah dibeli oleh sebagian orang tua siswa. Menurutnya, terdapat perbedaan sikap dari masing-masing wali murid. Ada yang memilih membuang meja dan kursi tersebut, sementara sebagian lainnya berharap sekolah dapat mengganti biaya pembeliannya.

Pihak sekolah, kata Setia Rini, pada prinsipnya bersedia memberikan penggantian biaya meja dan kursi tersebut. Namun, realisasinya masih harus menunggu ketersediaan anggaran melalui Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahap II yang hingga kini belum dicairkan.

"Untuk urusan pengembalian uang itu sudah clear. Cuma masalah meja kursi itu saja lagi. Mereka ada yang mau membuang, ada yang minta diganti oleh sekolah. Kami bilang, kami bersedia saja mengganti, tapi dananya menunggu Dana BOS alur dua, karena BOS alur dua belum. Kami bermaksud saja mengganti, cuma uangnya saat ini tidak ada," jelasnya.

Polemik 21 calon siswa jalur offline ini masih menjadi perhatian masyarakat Kabupaten Kapuas. Di satu sisi, orang tua siswa mempertanyakan kepastian proses penerimaan yang telah dijalani anak-anak mereka. Di sisi lain, pihak sekolah menegaskan telah berupaya mengajukan penambahan kuota kepada Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, namun permohonan tersebut tidak disetujui sehingga sekolah harus menjalankan keputusan yang telah ditetapkan. (SABRIANOOR/H)