PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Provinsi Kalimantan Tengah bersama Bursa Efek Indonesia atau BEI Kalimantan Tengah mendorong mahasiswa baru Universitas Palangka Raya (UPR) mulai mengenal investasi sejak dini.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Sekolah Pasar Modal yang dirangkaikan dengan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPR. Kegiatan ini menjadi bagian dari Road to Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) Tahun 2026.

Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz diwakili oleh Manajer Bidang Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen, Ika Budhi Pratiwi mengatakan pengenalan pasar modal kepada mahasiswa penting dilakukan sejak awal agar generasi muda memiliki pemahaman yang baik mengenai investasi.

Menurutnya, peningkatan jumlah investor di Kalimantan Tengah harus diiringi dengan peningkatan literasi. Dengan demikian, masyarakat yang masuk ke pasar modal tidak hanya menjadi investor secara administratif, tetapi juga memahami instrumen investasi, risiko, serta cara berinvestasi secara bijak.

"Pertumbuhan investor pasar modal di Kalimantan Tengah menunjukkan tren yang positif. Namun, peningkatan tersebut perlu diikuti dengan pemahaman dan perilaku investasi yang semakin baik," kata Ika Budhi dalam rilisnya pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Berdasarkan data OJK, jumlah investor pasar modal di Kalimantan Tengah meningkat dari 167.839 investor pada Januari 2026 menjadi 252.709 investor pada Juni 2026. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal.

Kota Palangka Raya menjadi salah satu daerah dengan jumlah investor yang cukup besar. Hingga Juni 2026 tercatat 30.766 investor atau sekitar 12,17 persen dari total investor pasar modal di Kalimantan Tengah. Jumlah tersebut menempatkan Palangka Raya di posisi kedua setelah Kabupaten Kapuas.

Di sisi lain, nilai transaksi saham masih bergerak dinamis. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp2,05 triliun pada Januari 2026 dan berada di angka Rp1,2 triliun pada Juni 2026. Kondisi ini menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan edukasi dan literasi pasar modal secara berkelanjutan.

Primandanu menilai mahasiswa merupakan kelompok yang strategis untuk mendapatkan edukasi pasar modal. Selain berada pada usia produktif, mahasiswa juga diharapkan dapat menjadi bagian dari generasi investor yang memahami pentingnya perencanaan keuangan dan investasi jangka panjang.

Melalui kegiatan Sekolah Pasar Modal tersebut, OJK dan BEI Kalteng juga mendorong perluasan inklusi pasar modal melalui pembentukan Single Investor Identification (SID) baru. Langkah ini diharapkan dapat memperluas basis investor di Kalimantan Tengah sekaligus membangun budaya investasi yang sehat di kalangan generasi muda. (TESTI PRISCILLA/H)