PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Langit sore mulai memerah tertutup kabut tebal saat rombongan Bupati Kotawaringin Barat, Hj. Nurhidayah, menembus pekatnya jalur menuju KM 19 Jalan Pangkalan Bun - Kotawaringin Lama.

Meski matahari kian meredup dan stamina terkuras, tak ada raut lelah di wajahnya demi memastikan Kotawaringin Barat (Kobar) segera bebas dari ancaman bencana asap.

Akses menuju titik api di kawasan tersebut terbilang ekstrem. Didampingi unsur TNI, Polri, BPBD, Damkar, Tagana, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) dari wilayah Kotawaringin Lama dan Arut Selatan, rombongan harus menerjang kepulan asap dan medan jalan yang bergelombang.

Meski penanganan sudah dilakukan intensif dalam beberapa hari terakhir, kobaran api di bawah permukaan tanah belum sepenuhnya padam.

Untuk mencapai lokasi kebakaran, petugas harus melewati jalan bergelombang yang hanya bisa diakses kendaraan roda dua atau mobil double cabin sejauh 2 hingga 3 kilometer dari jalan poros.

Tak berhenti di situ, personel di lapangan masih harus berjalan kaki menembus rintangan semak belakak, sembari menarik dan memikul selang air yang berat menuju titik api.

Hj. Nurhidayah menceritakan sendiri bagaimana beratnya perjuangan para petugas pemadam di lokasi kejadian. Merasakan langsung situasinya, ia tak dapat membayangkan beratnya beban fisik yang ditanggung para personel setiap harinya.

"Saya yang baru berada di lokasi sekitar setengah jam lebih saja, meskipun sudah menggunakan masker yang lebih aman, napas sudah terasa sesak dan mata perih karena kondisi kesehatan. Bayangkan bagaimana kondisi fisik para petugas kita yang setiap hari menghirup asap dan bekerja berjam-jam lamanya di medan seberat ini," ujar Hj. Nurhidayah di lokasi kebakaran.

Bupati menegaskan bahwa situasi darurat seperti saat ini bukan lagi saatnya untuk saling menunjuk atau mencari kesalahan.

Penanganan Karhutla membutuhkan semangat gotong royong dari seluruh elemen masyarakat karena dampaknya sangat luas, mulai dari terganggunya aktivitas warga, roda perekonomian, pelayanan publik, hingga ancaman serius bagi kesehatan.

Beliau kembali mengetuk hati seluruh warga Kobar, agar tidak ada lagi yang membuka lahan dengan cara dibakar demi keselamatan bersama.

"Imbauan sudah disebar melalui berbagai platform media. Jangan membuka lahan dengan dibakar. Maka harapan kami, mari kita bersama mendoakan petugas, bantu petugas di lapangan untuk tetap bisa menjalankan tugas dengan baik, serta dijaga kesehatannya dalam menjaga langit Kotawaringin Barat tetap membiru," pungkasnya. (DANANG/H)