BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kemarau pada tahun 2017 diprediksi lebih panjang jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perkiraan ini merujuk perubahan cuaca yang terjadi beberapa tahun terakhir. Pada tahun ganjil, musim kemarau cenderung lebih panjang.
Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) perlu melakukan berbagai persiapan, salah satunya penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Meski belum bisa memastikan kemarau di tahun 2017 lebih panjang, Kepala Badan Metereologi, Geofisika dan Klimatologi (BMKG) Pangkalan Bun, Lukman Soleh tidak menampik kecenderungan tahun ganjil memiliki musim kemarau yang lebih panjang. "Belum terpantau apakah kemarau pada tahun ini (2017) akan berlangsung lebih panjang," jelas Lukman Soleh di Pangkalan Bun, Sabtu (14/1/2017).
Pasalnya, lanjut Lukman, sampai saat ini belum bisa memastikan musim kemarau panjang yang cukup lama bisa terjadi di Kabupaten Kobar dan sekitarnya, karena sekarang prediksi masih mengalami musim hujan. "Saat ini dan beberapa hari ke depan masih berpotensi hujan ringan hingga lebat, belum ada tanda-tanda memasuki musim kemarau," ucapnya.
Lukman menjelaskan, dari pantauannya, musim hujan terjadi hingga April atau Mei. Untuk musim kemarau belum dapat terpantau dengan detail. Biasanya, akan terlihat apabila mendekati Mei, Juni atau Juli mendatang.
Terpisah, Komandan Distrik Militer 1014 Pangkalan Bun, Letkol Inf. Wisnu Kurniawan berharap semua steakholder belajar pada tahun-tahun sebelumnya. Jangan sampai semua baru bingung saat bencana Karhutla marak. "Kencenderungan musim kemarau lebih panjang pada tahun ganjil harus menjadi perhatian," ucapnya.
Dandim mengatakan, dengan pengalaman dan prediski lima tahunan terakhir ini, kemungkinan terjadinya kemarau panjang pun sangat berpeluang cukup besar. Sehingga perlu antispasi mencegah kebakaran lahan dan hutan.
"Pemetaan daerah yang rawan terjadinya kebarakan lahan dan hutan harus segera dilakukan," tandasnya. (FAHRUDDIN FITRIYA/B-2)








