PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Produk turunan kelapa sawit mulai membuka peluang baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atau UMKM perkebunan Indonesia untuk menembus pasar internasional. Salah satunya melalui pengembangan lidi sawit yang kini telah berhasil diekspor ke Tiongkok.

Keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat atau ASPEKPIR dan pendampingan Arra Setya Abadi atau ASA.

Kisah ekspor lidi sawit menjadi salah satu pembahasan dalam Podcast Bincang UMKM Perkebunan di Roemah Episode II bertema “Dari Roemah ke Dunia: Cerita UMKM Perkebunan Menembus Pasar Ekspor” yang digelar di Roemah UMKM BPDP SMESCO Indonesia.

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan lidi sawit merupakan salah satu produk turunan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat, khususnya di wilayah perdesaan.

“Lidi sawit ini merupakan salah satu potensi yang sangat besar, ini low hanging fruit yang bisa menjadi potensi untuk menggerakkan masyarakat kita, khususnya di desa-desa, untuk menjadi penghasil dolar,” ujar Helmi kepada Borneonews pada Minggu, 13 September 2026.

Menurut dia, peluang tersebut perlu dibarengi peningkatan pengetahuan, keterampilan dan pendampingan. Pelaku UMKM perlu memahami spesifikasi produk hingga prosedur ekspor agar produk yang dihasilkan mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.

BPDP kemudian memfasilitasi proses tersebut melalui berbagai workshop bersama ASPEKPIR. Kegiatan itu antara lain memberikan pembelajaran mengenai spesifikasi lidi sawit yang dibutuhkan pasar serta tahapan yang harus dipersiapkan untuk kegiatan ekspor.

Ketua Umum ASPEKPIR, Setiyono, mengatakan pengembangan lidi sawit berangkat dari keinginan mendorong petani agar tidak hanya bergantung pada penjualan tandan buah segar (TBS). Produk samping perkebunan diharapkan dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan baru.

Sebelum menyasar pasar ekspor, lidi sawit yang diproduksi petani dan pelaku UMKM lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan lokal. Melalui kolaborasi dengan BPDP, produk tersebut kemudian dikembangkan agar mampu memenuhi spesifikasi pasar internasional.

“Tidak ujug-ujug bisa ekspor. Memang perjalanannya panjang,” kata Setiyono.

Pendampingan dilakukan di sejumlah wilayah untuk membangun kesiapan produsen sekaligus mempertemukan kebutuhan pasar dengan kemampuan produksi petani dan UMKM. Dalam proses tersebut, ASPEKPIR didampingi ASA dengan dukungan BPDP untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi.

Hasil pendampingan tersebut telah memungkinkan pengiriman lidi sawit ke Tiongkok. Total produksi yang dibantu melalui kolaborasi itu mencapai dua kontainer berukuran 40 kaki dengan kapasitas sekitar 30 ton per kontainer.

Pada salah satu pengiriman dari Langkat, Sumatera Utara, satu kontainer berisi sekitar 30.000 kilogram lidi sawit dikirim ke Tiongkok.

Bagi BPDP, keberhasilan ekspor tersebut menjadi contoh bahwa kolaborasi multipihak dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Pengembangan produk berbasis sawit juga tidak berhenti pada lidi, tetapi diarahkan pada berbagai produk turunan lainnya.

Sementara itu, ASPEKPIR berkomitmen terus mendorong anggotanya mengembangkan produk samping kelapa sawit. Setiyono menyebut lidi sawit merupakan langkah awal, sedangkan produk lain seperti biochar juga tengah dipelajari untuk dikembangkan sebagai komoditas berorientasi ekspor.

Melalui Podcast Bincang UMKM Perkebunan di Roemah Episode II, kisah tersebut menunjukkan bahwa komoditas perkebunan tidak hanya memiliki nilai ekonomi dalam bentuk produk utama. Dengan inovasi, pendampingan dan kolaborasi, produk turunannya juga dapat menjadi pintu masuk UMKM Indonesia menuju pasar dunia. (TESTI PRISCILLA/H)