SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pagi di Taman Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), tak lagi seramai biasanya. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti kawasan tersebut, membuat warga mengurangi aktivitas di luar rumah. Bagi pedagang kaki lima yang mengandalkan keramaian pagi, kondisi ini turut menggerus pendapatan.

Dampaknya dirasakan Dewi, salah satu pedagang kue pukis yang biasa menggelar dagangannya di kawasan Taman Kota Sampit. Berkurangnya warga yang datang untuk berolahraga atau sekadar berjalan-jalan membuat penjualan kue buatannya ikut menurun.

"Yang pasti enggak seperti biasa ya, pasti ada berkurang. Soalnya kan jarang orang ke taman, jalan-jalan pagi," ujar Dewi, Senin, 12 Oktober 2026.

Penurunan jumlah pembeli membuatnya harus menyesuaikan jumlah kue yang diproduksi setiap hari. Jika dalam kondisi normal ia menyiapkan sekitar empat kilogram adonan, kini jumlahnya dikurangi menjadi tiga kilogram.

"Kalau hari biasa, biasanya empat kilo. Sekarang kadang tiga kilo, dikurangi sih yang pasti," imbuhnya.

Bagi pedagang kecil seperti Dewi, mengurangi jumlah dagangan menjadi salah satu cara untuk menekan risiko kerugian. Ia tak ingin tetap memproduksi kue dalam jumlah banyak ketika jumlah pembeli tidak menentu.

Kue yang tidak habis terjual berpotensi menambah beban kerugian. Karena itu, ia memilih menyesuaikan produksi dengan perkiraan permintaan, meski keputusan tersebut juga berarti peluang pendapatannya semakin terbatas.

Situasi ini memperlihatkan dampak kabut asap yang tak hanya dirasakan dari sisi kesehatan dan terganggunya aktivitas masyarakat. Ketika warga memilih mengurangi kegiatan di luar rumah, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggantungkan penghasilan pada keramaian ikut merasakan akibatnya.

Bagi Dewi, membaiknya kondisi udara menjadi harapan agar aktivitas warga kembali seperti semula. Semakin sedikit orang yang datang ke taman, semakin terbatas pula kesempatan pedagang untuk menjajakan dagangan mereka.

Ia berharap penanganan karhutla segera ditingkatkan agar kabut asap tidak terus menyelimuti Sampit.

"Ya harapannya cepat ditangani asap ini. Soalnya semakin parah ya. Lebih ditingkatkan lagi penanganannya," ujarnya.

Kabut asap yang menyelimuti Sampit pada Senin pagi tidak hanya mengurangi kenyamanan warga beraktivitas, tetapi juga membatasi jarak pandang. Kondisi cuaca tampak menguning akibat pekatnya asap yang menyelimuti kawasan perkotaan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit mencatat, jarak pandang pada pukul 06.00 hingga 07.00 WIB tidak lebih dari 50 meter.

Sementara itu, berdasarkan pantauan aplikasi ISPU Net pada rentang waktu yang sama, kualitas udara di Kotim berada dalam kategori berbahaya. Nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) untuk parameter PM2,5 tercatat di atas 300. (DEWI PATMALASARI/H)