PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kabut asap karhutla yang melanda Kota Palangka Raya menempatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada pilihan sulit. Mereka harus menghadapi paparan asap ketika berjualan, tetapi pada saat yang sama tetap membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Salah seorang pelaku UMKM di Kota Palangka Raya, Yosianna, mengatakan berjualan merupakan mata pencaharian yang tidak mudah ditinggalkan meski kondisi udara sedang buruk.

Ia menyebut pendapatannya ikut terdampak ketika aktivitas masyarakat di luar rumah menurun akibat kabut asap.

"Omset biasanya masih lumayan lah pokoknya di atas 500-an, ini enggak sampai," katanya pada Rabu, 30 September 2026.

Menurutnya, pedagang tetap berusaha menjalankan aktivitas karena kebutuhan ekonomi tidak dapat ditunda. Berhenti berjualan berarti kehilangan sumber pemasukan harian.

"Tapi itu memang kan istilahnya mata pencaharian saya, kalau kita nggak semangat, siapa lagi yang semangatin," katanya.

Di sisi lain, kabut asap membuat masyarakat cenderung mengurangi aktivitas di luar rumah. Kondisi tersebut secara langsung berpengaruh terhadap jumlah pembeli dan transaksi para pedagang.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Kalteng yang juga Dosen UKPR, Rawing Rambang, mengatakan kondisi kabut asap yang berkepanjangan dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian masyarakat.

Ia berharap penanganan karhutla dilakukan lebih optimal sejak awal musim kemarau sehingga masyarakat tidak terus-menerus dihadapkan pada dampak kesehatan dan ekonomi.

Rawing juga berharap pemerintah memberikan perhatian kepada masyarakat yang terdampak, khususnya mereka yang menggantungkan kehidupan dari aktivitas ekonomi harian.

"Mudah-mudahan ada solusi dari pemerintah membantu masyarakat yang terdampak terutama ekonominya," ujar mantan Kepala Dinas Perkebunan Kalteng tersebut. (TESTI PRISCILLA/H)