PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Bank Indonesia atau BI Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah mendorong penguatan pasokan dan distribusi beras untuk menekan inflasi yang masih relatif tinggi di daerah, terutama akibat kenaikan harga komoditas pangan tersebut.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah, Yuliansah Andrias, mengatakan upaya pengendalian inflasi dilakukan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau TPID Provinsi Kalteng, termasuk Perum Bulog, dengan memastikan ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga beras bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Penguatan Pasokan dan Distribusi Beras TPID Provinsi Kalteng di Gudang Bulog Palangka Raya pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Yuliansah menjelaskan, terdapat sejumlah langkah yang menjadi perhatian bersama dalam pengendalian inflasi. Selain mencermati perkembangan inflasi, pemerintah daerah dan instansi terkait perlu mengambil langkah konkret untuk menjamin ketersediaan pasokan serta menjaga agar harga beras tetap terjangkau.

“Inflasi Kalimantan Tengah masih relatif agak tinggi, khususnya dipicu oleh harga beras. Karena itu, kita mendapat masukan dan arahan dari TPID untuk melakukan aksi guna memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga,” ujarnya.

Menurutnya, langkah tersebut diterjemahkan melalui skema fasilitasi distribusi pangan yang melibatkan BI dan Bulog. Skema ini diharapkan dapat memperkuat penyaluran beras dari daerah penghasil ke wilayah pemasaran di Kalimantan Tengah sehingga pasokan dapat diterima lebih cepat dengan biaya distribusi yang lebih terkendali.

Yuliansah menegaskan, ketersediaan beras dari daerah penghasil menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas pasokan di wilayah Kalimantan Tengah. Karena itu, proses distribusi perlu diupayakan berjalan lebih efisien agar tidak menambah beban harga yang harus ditanggung masyarakat.

"Dari sisi BI, dukungan diberikan melalui fasilitasi distribusi untuk membantu menekan selisih harga antara daerah asal dan harga jual di tingkat toko atau pasar. Dengan demikian, biaya distribusi diharapkan tidak menjadi faktor tambahan yang mendorong kenaikan harga beras di daerah tujuan," jelasnya.

Ia menyebutkan, tekanan harga pangan yang perlu dicermati terutama terjadi di sejumlah wilayah yang menjadi perhatian pengendalian inflasi, termasuk Palangka Raya dan daerah lainnya di Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut membutuhkan koordinasi antarlembaga agar upaya menjaga pasokan dan stabilitas harga dapat berjalan lebih efektif.

Yuliansah juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam TPID, termasuk pemerintah daerah dan Bulog, atas dukungan serta kerja sama dalam pelaksanaan langkah pengendalian inflasi. Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama ketika tekanan harga pangan masih dirasakan.

Melalui penguatan pasokan dan fasilitasi distribusi beras ini, BI berharap beban harga yang dihadapi masyarakat dapat ditekan. Sinergi antara BI, Bulog, pemerintah provinsi, dan seluruh anggota TPID pun diharapkan terus diperkuat agar stabilitas harga pangan di Kalimantan Tengah tetap terjaga.

Kegiatan dilaksanakan oleh Perum Bulog Kanwil Kalimantan Tengah dengan dihadiri oleh Pemprov Kalteng, Polda Kalteng, Kodam XXII Tambun Bungai, dan berbagai OPD lainnya yang tergabung dalam TPID.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kalimantan Tengah, Erwin Budiana melaporkan bahwa beras yang disalurkan ini didatangkan dari Makasar, demi menjaga stabilitas harga pangan di Bumi Tambun Bungai.

"Pasokan beras ini kita datangkan dari Makassar, Sulawesi Selatan karena memang dapat kami laporkan bahwa beras premium untuk Kalteng memang masih belum bisa," katanya Erwin.(TESTI PRISCILLA/y)