BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pengedar dan bandar narkoba mulai menyasar daerah pinggiran Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Sopir, pekerja tambang, dan karyawan perkebunan sawit menjadi target peredaran barang haram itu.

Terungkapnya sejumlah kasus narkoba di daerah Kotawaringin Lama, Arut Utara, Pangkalan Banteng, Pangkalan Lada dan Kumai membuktikan para pengedar narkoba tidak lagi menjadikan Pangkalan Bun, sebagai satu-satunya daerah peredaran narkoba.

"Bahkan pengungkapan kasus narkoba di Kecamatan Kumai naik tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Termasuk wilayah kecamatan lain juga mengalami kenaikan signifikan," ungkap Kapolres Kobar AKBP Pria Premos, Selasa (7/3/2017).

Ke depan, lanjut Premos, pengungkapan kasus narkoba akan lebih berat. Pasalnya, dengan keterbatasan personil, pihaknya harus menjangkau wilayah Kabupaten Kobar yang sangat luas. Belum lagi persoalan keterbatasan anggaran yang ada. "Jumlah personel kita masih jauh dari kata ideal dibanding luasan wilayah," sebutnya.

Kendala lain, terang Kapolres, keterbatasan peralatan yang dimiliki. Misalnya, alat deteksi narkoba dan anjing pelacak khusus narkoba (unit K9) yang semestinya ditempatkan di gerbang masuk menuju wilayah Kobar.
"Di pelabuhan dan bandara sudah saatnya dipasangi alat deteksi narkoba, minimal ada anjing pelacak khusus narkoba," ujarnya.

Tanpa itu, imbuhnya, pihaknya akan kesulitan membendung penyelundupan narkoba ke wilayah Kabupaten Kobar yang selanjutnya menyuplai wilayah-wilayah pinggiran di Kabupaten Kobar, "harus kita bendung dari pintu masuknya," tandas Premos. (FAHRUDDIN FITRIYA/B-10)