BORNEONEWS, Sampit - Kartini alias Tini, seorang pedagang sembako nekat menggeluti bisnis zenith dengan alasan menjadi tulang punggung keluarga. Pasalnya, suami setelah suaminya harus jadi penghuni Lapas Klas II Sampit atas kasus serupa.
"Suami sudah enam bulan dipenjara yang mulia," katanya saat sidang, Rabu (17/5/2017) di Pengadilan Negeri Sampit.
Karena harus menghidupi dua anaknya ia memilih jalan pintas, sambil dagang sembako dan mengedarkan zenith. Meski kecilan-kecilan, keuntungan yang didapatkan cukup menjanjikan.
"Saya beli satu boks Rp350 ribu, kemudian saya ecer. Satu boks jika habis terjual bisa sampai Rp400 ribu - Rp450 ribu," ujar ibu dua anak tersebut.
Dia melakukan usaha itu berdasarkan pengalaman dari suaminya sebelum ditangkap polisi, namun apesnya juga perempuan yang disidangkan oleh hakim ketua Donny dan JPU Kejari Seruyan Antoni Kusomo ini turut diamankan petugas.
Tini diamankan di kediamannya Desa Sembuluh II, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, pada Februari 2017 lalu. Dari tangannya petugas menemukan lima keping zenith dan uang Rp100 ribu yang diakuinya hasil penjualannya.
"Saya beli zenith tidak pernah banyak, sekali ambil cuma satu boks, habis ambil lagi," pungkasnya. (NACO/B-11)
"Suami sudah enam bulan dipenjara yang mulia," katanya saat sidang, Rabu (17/5/2017) di Pengadilan Negeri Sampit.
Karena harus menghidupi dua anaknya ia memilih jalan pintas, sambil dagang sembako dan mengedarkan zenith. Meski kecilan-kecilan, keuntungan yang didapatkan cukup menjanjikan.
"Saya beli satu boks Rp350 ribu, kemudian saya ecer. Satu boks jika habis terjual bisa sampai Rp400 ribu - Rp450 ribu," ujar ibu dua anak tersebut.
Dia melakukan usaha itu berdasarkan pengalaman dari suaminya sebelum ditangkap polisi, namun apesnya juga perempuan yang disidangkan oleh hakim ketua Donny dan JPU Kejari Seruyan Antoni Kusomo ini turut diamankan petugas.
Tini diamankan di kediamannya Desa Sembuluh II, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, pada Februari 2017 lalu. Dari tangannya petugas menemukan lima keping zenith dan uang Rp100 ribu yang diakuinya hasil penjualannya.
"Saya beli zenith tidak pernah banyak, sekali ambil cuma satu boks, habis ambil lagi," pungkasnya. (NACO/B-11)








