BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau akan berlangsung mulai Juli hingga September 2017. Kemarau cukup panjang membuat trauma pada 2015 akan bencana kabut asap seakan membayangi lagi.

Sebagai upaya agar bencana menyedihkan ini tidak terulang lagi,i terutama di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, khususnya Kota Palangka Raya, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan melakukan berbagai persiapan dan upaya pencegahan.


"Biasanya, setiap musim kemarau selalu ada kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Apalagi kemarau tahun ini diprediksi cukup panjang. makanya mulai Mei kemarin kami selalu memantau titik panas (hotsopt) yang bisa menjadi bibit kebakaran," ungkap Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palangka Raya, Anwar Sanusi Umarnur Gayo melalui Wawan Berlison, Kepala Bidang Pencegahan dan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).


Menurut Wawan, agar musim kemarau tidak mengakibatkan musibah kabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan, maka sejak dini telah dilakukan upaya pencegahan oleh petugas di lapangan dengan mengecek langsung.


"Upaya pencegahan sejak dini itu adalah setiap hari petugas pemadam keliling ke sejumlah wilayah kecamatan dan kelurahan untuk memantau titik api," tuturnya.


Bekerja sama dengan Kodim 1016 Palangka Raya dalam Tim Satgas Karhutla, pemantauan titik api itu dilakukan setiap hari.


"Damkar brigade 247 (24 jam dan 7 hari) stanby terus, tanggal kalender hitam semua jadi kalaupun ada libur bergantian," tutupnya. (TESTI PRISCILLA/B-6)