BORNEONEWS, Palangka Raya – Tekad Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Palangka Raya dalam menekan angka penyalahgunaan peredaran gelap narkoba bukan sekedar seremoni belaka.

Setelah penandatangan Memorandum of Understanding antara Kapala BNN Kota Palangka Raya, Muhammad Soedja’i dan Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Abubakar pada Rabu (30/8/2017) tadi, ada tiga hal yang bakal dilakukan pihak fakultas tersebut.

Abubakar mengatakan, pertama berkaitan dengan pendidikan pengajaran yang materinya terkait dengan bahayanya narkoba. Materi tersebut nantinya juga akan dimasukkan dalam kurikulum sehingga pemahaman akan bahayanya narkoba bisa disampaikan terstruktur dan berkelanjutan. 

Kedua, sebagai langkah penelitian untuk mengkaji tentang bagaimana pengaruh narkoba terhadap masyarakat dan di kampus. Hasil penelitian nantinya akan disampaikan kepada masyarakat. Terakhir adalah pengabdian kepada masyarakat agar terbebas dari bahaya narkoba.

Selain tiga hal tersebut, pihak fakultas juga akan membentuk tim satuan tugas (Satgas) untuk mencegah peredaran narkoba. Tim akan bekerja diawali dari area kampus lalu ke depan akan berlanjut ke tengah masyarakat.

“Dalam penelitian nanti, tidak mesti ketika penyusunan skripsi. Tapi diharapkan bisa di setiap semester. Tentang kurikulum, Insya Allah akan kita kaji secara tekhnis di prodi,” ungkap Abubakar.

Sementara itu, Muhammad Soedja’i mengatakan, mahasiswa dari fakultas tersebut nantinya akan menjadi relawan untuk mencegah penyalahgunaan peredaran narkoba. Salah satu bentuk pencegahan bisa melalui sosialisasi, tesurine dan menyelipkan pemahaman anti narkoba pada kurikulum di bangku kuliah.

“Ini sangat bagus sekali. Intinya, mereka (mahasiswa) peduli dengan adanya penyalahgunaan narkoba. Makanya kita lakukandeteksi sedini mungkin. Namun yang jelas, mencegah penyalahgunaan peredaran gelap narkoba harus diawali dari keluarga,” kata Soedja’i.

M Ali Prayuda, salah seorang mahasiswa semester III dari fakultas tersebut mengatakan, ia bersama rekan-rekannya siap menjadi garda terdepan. Ia juga akan berupaya untuk saling mengingatkan sesama teman, lingkungan sekitar hingga keluarga.

Mengenai wacana akan masuk dalam kurikulum, dia menyebut sangat setuju. Sebab dengan begitu, pemahaman tentang bahayanyanarkoba akan diperoleh mengingat ada mata kuliah sendiri yang terjadwal.

“Sangat bagus sekali. Karena kalau cuma sosialisasi,biasanya sekali langsung hilang. Tetapi kalau ada dalam kurikulum, maka adapertemuan terus pada mata kuliah,” ucapnya. (BUDI YULIANTO/B-5)