SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Indonesia masih menjadi pangsa pasar untuk peredaran berbagai jenis narkoba. Semakin intensif ditangkap, semakin tinggi pasokannya. Targetnya pun beragam, mulai dari usia dini hingga dewasa.

Upaya pemberantasan yang terus dilakukan secara besar-besaran, tidak akan ada hasilnya, jika pencegahan dan rehabilitasi tidak dilakukan dengan porsi berimbang.

Kewaspadaan terhadap itulah menjadi dasar Aksi Masyarakat Anti Narkoba (Sikat Narkoba) Sampit menggandeng Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) dengan program Community Development Anti Narkoba, melaksanakan Talk Show Hidup Indah Tanpa Narkoba.

Menurut mantan Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Pol (Purn) Benny J. Mamoto, yang juga Duta Anti Narkoba ILUNI UI, bisnis narkoba memang sulit ditekan.

“Narkoba adalah bisnis ilegal. Berarti berlaku hukum pasar. Angka pasokan ditekan, tapi angka permintaan tidak bisa ditekan, maka pasar akan semakin menggiurkan. Dengan pasar yang terus tumbuh, maka bandar dan pengedar akan semakin intens untuk mengambil keuntungan,” kata Benny J Mamoto.

--page

“Perlu ada upaya pencegahan terus dilakukan dan orang tidak mau lagi membeli narkoba karena sudah tahu risikonya. Jadi tidak akan ada lagi yang membeli. Dengan sendirinya, pasar akan tidak ada lagi,” lanjut Benny.

Sementara itu, narasumber lainnya Maman Suherman, jurnalis yang juga notulis salah satu acara televisi swasta membeberkan fakta mengejutkan.

"Menurut data BNN, ada sekitar 5.9 juta penyalahguna narkoba di Indonesia. Jika sekali makai mereka menggunakan 0.2 gram sabu saja dalam waktu bersamaan, artinya sudah menggunkan lebih dari satu ton sabu,” kata Maman.

Sebagai Duta Literasi ILUNI UI dan Sahabat Literasi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kang Maman menawarkan Literasi Anti Narkoba sebagai salah satu jalan keluar.

Sementara, Endang Mariani, salah pengurus ILUNI UI melihat akar permasalahan dan memberikan alternatif solusinya.

--page

“Sesungguhnya, tubuh manusia sudah dilengkapi kecerdasan tubuh alami. Salah satunya menghasilkan endorfin, yaitu morfin alami. Menurut penelitian, endorfin justru memiliki kekuatan 200 kali lipat efek morfin. Seharusnya kita tidak butuh lagi morfin. Bagaimana menghasilkan endorfin, adalah dengan berlatih menggunakan Vibrant Happy Healing, terapi vibrasi kebahagiaan,” katanya.

Ketua Sikat Narkoba Sampit, Iwan Setia Putra menambahkan, mengatakan pentingnya peran serta masyarakat dalam mencegah peredaran narkoba.

“Yang penting adalah tidak ada yang beli. Di situlah tugas kita yang utama. Membuat tidak ada lagi orang yang mau membeli narkoba,” tegas Iwan.

Dalam kesempatan itu juga ditandatangani Memorandum of Understanding (MoU) bersama sejumlah RT di Sampit, yang siap mewujudkan lingkungan bersih dari narkoba. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)