BORNEONEWS, Palangka Raya – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng menilai kebijakan yang diambil pemerintah ikut andil berpengaruh terhadap inflasi dan deflasi yang terjadi selama Januari 2023.
“Di bulan Januari 2023 ada beberapa kebijakan yang sangat berpengaruh terhadap inflasi baik secara nasional maupun inflasi di Kalteng,” ungkap Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalteng, Akhmad Tantowi dalam rapat TPID bersama Pemprov Kalteng di Ruang Bajakah, Jumat, 3 Februari 2023.
Ia menjelaskan berbagai kebijakan tersebut seperti kenaikan tarif cukai rokok sebesar 10 persen yang terjadi sejak November 2022.
Kemudian, kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), ditambah kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga.
Selain itu ada komoditas-komoditas yang memang memberi andil terhadap inflasi maupun deflasi di Kalteng seperti beras, daging babi, daging ayam ras.
Akhmad menyampaikan Inflasi di Palangka Raya cukup rendah yaitu 0,13 persen, tapi kelompok makanan, minuman dan tembakau masih cukup tinggi sebesar 0,74 persen dan bahan makanan 0,33 persen berada di atas transportasi umum yang turun 0,78 persen.
“Hal ini terjadi karena adanya kebijakan penurunan harga BBM di kelompok transportasi termasuk bensin, solar sehingga terjadi penurunan yang cukup besar,” ucap Tantowi.
--page
Namun berbeda dengan di Sampit tingkat inflasi masih tinggi yaitu pada kelompok makanan, minuman sebesar 0,48 persen dan bahan makanan 0,38 persen, sedangkan di kelompok energi turun 1,22 persen. (HERMAWAN DP/R)









