PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Harga beras menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi di Kalimantan Tengah pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng mencatat beras memberikan andil inflasi tahunan atau year on year/y-on-y sebesar 0,87 persen.

Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Toto Haryanto Silitonga, mengatakan pemerintah telah berupaya menjaga harga pangan melalui berbagai langkah, termasuk penyaluran beras melalui Bulog dan pelaksanaan pasar murah.

Namun, menurutnya, persoalan harga beras tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dan distribusi. Preferensi masyarakat terhadap jenis beras tertentu juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

“Kalau masyarakat sudah cocok dengan beras jenis tertentu, berapapun harganya, masyarakat tetap membeli. Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa,” kata Toto dalam penyampaian berita resmi statistik pada Selasa, 2 September 2026.

Karena itu, ia menilai diperlukan edukasi kepada masyarakat agar secara bertahap dapat melakukan shifting atau pergeseran konsumsi dari beras lokal ke beras nasional yang harganya lebih dapat dikendalikan melalui kebijakan pemerintah dan distribusi Bulog.

“Yang bisa kita lakukan adalah edukasi shifting dari beras lokal menjadi beras nasional yang harganya diatur oleh Bulog,” ujarnya.

Toto juga mendorong Pemerintah Provinsi Kalteng melihat persoalan harga beras secara lebih menyeluruh dan menentukan kebijakan lanjutan. Salah satunya dengan mengevaluasi jenis padi yang selama ini banyak ditanam petani.

Menurut dia, pemerintah perlu mengkaji apakah diperlukan perubahan jenis padi yang dibudidayakan, termasuk kemungkinan mendorong petani menanam varietas yang lebih sesuai dengan kebutuhan beras nasional.

“Pemerintah Provinsi perlu melihat kondisi ini untuk melakukan tindak lanjut, apakah perlu ada perubahan jenis padi yang ditanam, apakah perlu HET untuk jenis beras tertentu,” jelasnya.

Selain produksi dan pola konsumsi, distribusi juga menjadi faktor yang memengaruhi harga. Kondisi biaya distribusi, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi saat ini dinilai dapat memberikan tekanan terhadap harga pangan.

“Distribusi juga berpengaruh. Kenaikan BBM dan karhutla seperti saat ini tentu mempengaruhi harga,” katanya.

Toto juga mempertanyakan kesiapan petani yang selama ini menanam padi lokal apabila diarahkan untuk beralih ke varietas padi yang masuk dalam kategori beras nasional.

“Petani yang biasanya menanam beras lokal, maukah diajak untuk shifting untuk menanam padi yang jenis nasional yang mungkin bisa panen tiga kali setahun dan sebagainya,” ujarnya.

Makanan Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar

Berdasarkan data BPS Kalteng, kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada Agustus 2026 mengalami inflasi y-on-y sebesar 7,10 persen. Angka tersebut terjadi karena peningkatan indeks dari 110,70 pada Agustus 2025 menjadi 118,56 pada Agustus 2026.

Jika dirinci, subkelompok makanan mencatat inflasi tertinggi sebesar 8,07 persen, disusul rokok dan tembakau sebesar 3,37 persen. Sementara subkelompok minuman yang tidak beralkohol mengalami inflasi sebesar 2,27 persen.

Secara tahunan, kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil inflasi sebesar 2,76 persen.

Beras menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar dalam kelompok tersebut, yakni 0,87 persen. Berikutnya daging ayam ras dan ikan nila masing-masing memberikan andil 0,26 persen, minyak goreng 0,17 persen, ikan patin 0,13 persen, ikan gabus 0,11 persen, serta cabai rawit 0,10 persen.

Sejumlah komoditas lainnya yang turut memberikan andil inflasi antara lain sigaret kretek mesin, terong, ketimun, ikan kapar, sigaret kretek tangan, ikan baung, kue basah, gula pasir, air kemasan, semangka, ikan peda, ikan lais dan ikan papuyu.

Di sisi lain, beberapa komoditas memberikan andil deflasi. Bawang merah menjadi penyumbang deflasi terbesar sebesar 0,20 persen, diikuti tomat 0,05 persen, telur ayam ras 0,02 persen, serta bawang putih, buah naga, udang basah dan kelapa masing-masing 0,01 persen.

Meski demikian, pada Agustus 2026 kelompok makanan, minuman dan tembakau tidak memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi secara bulanan atau month to month/m-to-m. (TESTI PRISCILLA/y)