BORNEONEWS, Sampit - Merdeka berarti tidak menyerah dari apapun yang membatasi diri. Hal itu yang tertanam pada sosok pemilik sebuah usaha mikro kecil menengah (UMKM), Sardi Fakhri Rakhman, di sebuah daerah yang dekat namun seakan jauh dari kota Sampit.
Bajakah Asli Sampit Uluh Dipah Project, begitu nama usaha kecil milik pemuda Kelurahan Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur dikenal di mesin pencari google.
Perlu menyeberangi Sungai Mentaya menggunakan sebuah perahu motor melalui Dermaga Sampit-Seranau menuju rumah pengolahan produk herbal yang mengangkat kearifan lokal itu.
Suasana jauh berbeda ketika menapaki dermaga kayu usang yang telah berlubang dan reot di sejumlah titik, padahal dermaga satu-satunya akses terdekat masyarakat Kecamatan Seranau menuju kota Sampit.
Rumah terbuat dari kayu menyambut di kanan kiri jalan ketika ke luar dari dermaga. Begitu pun permukaan jalan terkelupas, menyisakan batu-batu kerikil tertanam menyebabkan pengendara motor merasakan gelombang sepanjang perjalanan. Sebuah keadaan kontras dari kota Sampit yang hanya berjarak selebar Sungai Mentaya. Bahkan tak ada kendaraan roda empat berlalu lalang di daerah yang terkenal dengan tulisan Selamat Datang di Sampit itu.
--page
Bulan Agustus mestinya kental dengan ornamen kemerdekaan pun tak begitu mencolok di jalan tersebut. Bendera terpasang di depan rumah warga dapat dihitung dengan jari. Begitu perjalanan tergambar sebelum mencapai sebuah rumah dengan banner besar bertuliskan Uluh Dipah Project.
Uluh Dipah Project sebuah usaha produk kesehatan herbal dengan kearifan lokal masyarakat dayak telah berdiri sejak 2018. Lahir dari rumah kayu di Kelurahan Mentaya Seberang, produk herbal itu tak semata mengikuti tren kayu bajakah yang sedang viral pada masanya.
"Kami menggali informasi, juga didasari dari pengalaman seorang keluarga yang mengalami kanker payu dara. Ia sembuh berkat rutin mengonsumsi obat herbal kayu bajakah," ujar Fakhri, Senin, 28 Agustus 2023.
Ia melalui trial and error di awal perjalanannya. Tak sembarangan, ia mencari tahu jenis kayu bajakah mana yang tepat digunakan sebagai obat herbal. Bahkan mulanya ia menembus hutan berbekal parang mecari sebatang kayu yang dipercaya penyembuh penyakit kanker. Hingga permintaan meningkat dan harus mengambil kayu hasil masyarakat setempat untuk memenuhi pesanan dari Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi.
"Kami banyak gagal juga karena hujan dan rusak produknya. Bahkan dulu pernah mendapat banyak komplain. Tidak mulus langsung seperti ini. Jadi waktu itu terus belajar sampai akhirnya mendapat formula tepat untuk mengolahnya," ujar pria yang juga aktif sebagai Pendamping Proses Produk Halal itu.
--page
Fakhri semakin menemukan kepercayaan diri saat usaha besutannya menjuarai ajang Kreasi Inovasi (Krenova) 2022 Kabupaten Kotawaringin Timur. Prestasinya berlanjut menjadi utusan Bea Cukai Sampit pada UMKM Week 2022 Kemenkeu I. Menurutnya, prestasi paling membanggakan saat mewakili Kotawaringin Timur pada ajang Apresiasi Kreasi Indonesia 2023 dari Kemenparekraf RI menyisihkan lebih dari tujuh ribu UMKM untuk wilayah Kalimantan Tengah-Kalimantan Selatan.
Fakhri mengusung 2 produk andalannya teh celup bajakah dan kopi rempah. Teh celup bajakah merupakan produk inovasi kayu bajakah dengan pengemasan modern menyerupai teh di dalam kantong yang praktis untuk diseduh. Sementara kopi rempah ia usung karena nilai sejarahnya. Bahwa pada masanya kopi ini diproduksi masyarakat dayak untuk menjamu tamu. Kopi dengan aroma khas dan rendah kafein ini menurutnya sudah mulai tak diproduksi oleh masyarakat. Padahal kopi rempah memiliki keunggulan aman bagi lambung.
Usaha yang telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB) tahun 2020 itu pernah mencapai omset Rp 50 juta lebih per bulan pada masa viralnya kayu bajakah. Namun menglami penurunan saat pandemi covid-19 melanda. Meski demikian, UMKM yang pernah membawa nama daerah di ajang nasional itu kini stabil dengan omset Rp 10 juta per bulan.
Meski terseok-seok produksi dan modal usaha, Fakhri tetap mempertahankan Uluh Dipah Project hingga kini. Ia tekankan bahwa usahanya bukan didasari viralnya kayu bajakah yang mulai redup, melainkan menjaga kearifan lokal tetap hidup di tengah gempuran perkembangan zaman.
"Inilah upaya kita bagaimana tetap mempertahankan warisan leluhur. Kami ingin seperti rempah-rempah lokal Indonesia yang tetap eksis untuk pengobatan tradisional. Siapa tahu ke depan akan ada generasi kita lebih menggencarkan produk ini nanti," tandasnya.
Namun demikian, sosok yang aktif sebagai Pendamping Proses Produk Halal di Kecamatan Seranau ini merasa peran pemerintah daerah dalam membantu kemajuan UMKM belum dirasakan. Kurang lebih 50 UMKM di Kecamatan Seranau memiliki potensi berkembang lebih baik namun tak mendapat sentuhan pemerintah daerah.
Pemerintah daerah gencar melakukan sosialisasi terhadap UMKM namun tak dibarengi kebutuhan mendasar agar UMKM tumbuh selangkah lebih maju. Seperti dukungan dana atau pengadaan mesin produksi. Bahkan pada ajang nasional, pemerintah daerah hanya mengambil sampel produk untuk dibawa.
--page
Dia menggambarkan, sosialisasi yang mestinya dilakukan pemerintah daerah itu spesifik. Misalnya dalam pengemasan sebuah produk bagaimana higienitasnya dan bagaimana pengemasan produk yang benar. Lalu dibarengi dengan pemberian modal atau bantuan mesin pengemas. Sehingga kehadiran pemerintah daerah betul-betul memerdekakan UMKM.
"Misalnya produk kami teh celup bajakah itu perlu pengadaan mesin pengemas agar lebih banyak dan cepat proses produksinya. Itulah yang diperlukan UMKM seperti kami. Kalau hanya sosialisasi kami sudah kenyang ibaratnya," kata pria 39 tahun itu.
Terlepas dari itu, begitu sosok yang hanya lulusan Sekolah Menengah Atas memerdekakan pemikirannya untuk terus maju. Karena menunggu uluran pemerintah daerah tentu hanya akan menjadi batas. Ia terus memasarkan produk yang diproduksi terbatas itu dengan menitipkan di pusat oleh-oleh di Sampit, Pangkalan Bun dan Palangka Raya. Juga melalui situs komersil seperti shopee dan tokopedia.
Bahkan kini pun Fakhri tengah berjuang mendapat legalitas Usaha Mikro Obat Tradisional yang cukup ribet pengurusannya. Perlu modal lebih besar karena legalitas itu bisa di dapat jika peralatan produksi memadai dan tempat produksi terpisah dari rumah tempatnya bernaung.
Sementara itu, masalah UMKM demikian sempat disinggung legislator dari Daerah Pilihan (Dapil) Baamang-Seranau Dadang Siswanto. Belum lama ini, dirinya bersama Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur menerima 2 naskah akademik dari mahasiswa STIH Habaring Hurung. Salah satu naskah akademik tersebut menyinggung ekonomi kreatif.
"Agar pelaku usaha ekonomi kreatif dapat tumbuh dan berkembang maka perlu ada peran pemerintah antara lain dukungan pembelajaran, dukungan pemodalan, sampai kepada dukungan pemasaran," kata Dadang.
Dadang mengisahkan sebuah produk minuman lokal Nanas Gantang, bahwa produk tersebut pernah mendapat dukungan dari pemerintah daerah berupa pembelajaran, namun tidak mendapat 2 hal penting yang berperan penting untuk kemajuan UMKM yaitu pemodalan dan pemasaran.
Ia berharap, naskah akademik ekonomi kreatif itu suatu saat digodok agar menjadi sebuah peraturan daerah. Dimana di dalamnya akan memaksa pemerintah daerah untuk melatih, memberi modal dan membeli produk UMKM lokal.
"Bagaimanapun UMKM juga memberikan sumbangsih dalam pertumbuhan perekonomian kita," tutupnya. (DEWI PATMALASARI/J)









