BORNEONEWS, Palangka Raya - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah mengaku menghadapi tantangan dalam mendapatkan penulis cerita berbahasa daerah.
Hal ini disampaikan Penerjemah Ahli Muda Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Rensi Sisilda dalam penutupan kegiatan Konsinyasi Penyuntingan Buku Cerita Anak Dwibahasa Tahun 2024 yang ditutup pada Sabtu, 14 September 2024.
"Meskipun telah mengadakan berbagai kegiatan untuk memotivasi penulis muda, seperti Kemah Penulisan Cerpen Berbahasa Daerah Tunas Bahasa Ibu yang diikuti oleh siswa SD dan SMP, jumlah penulis yang mampu menulis dalam bahasa daerah masih terbatas," kata Sisilda dalam kegiatan yang dilaksanakan di Swissbell Hotel Danum.
Salah satu upaya yang dilakukan, kata Rensi, adalah menyelenggarakan kemah penulisan yang bertujuan untuk mengasah bakat menulis generasi muda dan menghasilkan karya berkualitas. Namun, meskipun ada antusiasme dari peserta, Balai Bahasa Kalteng masih kesulitan menemukan penulis yang konsisten dan berkomitmen untuk menulis dalam bahasa daerah.
"Penulis yang mengirimkan naskah untuk Buku Cerita Anak Dwibahasa Tahun 2024 inipun bisa kita katakan belum maksimal. Dari sekian ratus naskah yang masuk, kami harus memilih yang terbaik dan itu sulit sekali karena sebenarnya yang baik pun sangat kurang jumlahnya," tuturnya lagi.
--page
Menurut Rensi, kegiatan seperti ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan pembelajaran bagi masyarakat Kalteng terutama generasi muda untuk terus mengembangkan kemampuan menulis mereka.
"Selain itu, revitalisasi bahasa daerah juga menjadi fokus utama untuk mencegah kepunahan bahasa-bahasa lokal di Kalteng," bebernya. (TESTI PRISCILLA/j)









