BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya, Sugiyanto menceritakan sebuah kisah nyata yang terjadi 10 tahun lalu, sebelum adanya kader vaksinator di Kota Cantik.
Kisah ini diceritakannya saat memberi sambutan pada peringatan Hari Rabies Sedunia yang diperingati di Halaman Kantor DPKP pada Sabtu, 28 September 2024.
"Sepuluh tahun lalu ada pemulung dan anak SD kelas 6, di Pahandut Seberang. Anak ini memiliki anjing yang selalu dia gendong di bahu. Suatu hari anjingnya ini menggigit si anak saat sedang digendong," cerita Sugiyanto di hadapan ratusan masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut.
Anak ini kemudian, kata Sugiyanto, melapor kepada orang tuanya yang sayangnya oleh orang tua anak tersebut dianggap biasa. Orang tua si anak berkata bahwa anjing menggigit itu wajar, yang tidak wajar kalau orang yang menggigit anjing. Karena dianggap biasa, anak ini tidak dibawa untuk mendapat Vaksin Anti-rabies atau VAR di Puskesmas Bukit Hindu yang merupakan Rabies Center Palangka Raya.
"Kejadian berikutnya, setelah menggigit si anak tadi, anjing itu kemudian lari dan menggigit seorang pemulung. Bedanya, pemulung ini pernah membaca flyer mengenai cara pencegahan rabies yakni dengan mencuci bekas luka dan segera meminta VAR ke Rabies Center. Karena itu, berbeda dengan anak tadi, pemulung ini mendapatkan suntikan VAR dengan cepat," lanjut Sugiyanto.
Tiga bulan berselang, katanya, pemulung tetap sehat sementara si anak dilaporkan mengidap gejala rabies.
"Kami menyaksikan sendiri kejadian di akhir hayat sang anak. Kami selama 3 hari berturut-turut datang menjenguk anak ini dan menyaksikan bagaimana gejala rabies menyerang anak ini. Sama seperti yang terjadi pada hewan, anak ini berteriak kesakitan, kejang, mengeluarkan Saliva berlebih, bahkan ketakutan pada air. Hingga tiga hari kemudian meninggal," tuturnya.
Sementara itu, nasib si anjing yang menggigit jauh berbeda. Anjing ini dipotong dan dimasak serta dikonsumsi oleh orang-orang yang menimbulkan kepanikan saat diketahui bahwa anak tadi diserang virus rabies. Namun ternyata orang-orang yang mengkonsumsi anjing tadi tidak kenapa-kenapa karena memang penularan rabies adalah lewat saliva dan luka terbuka atau gigitan.
"Kisah ini mengingatkan kita berapa berbahayanya rabies jika tidak segera ditangani, bahkan mengakibatkan kematian," tutupnya mengakhiri cerita.
Sugiyanto berharap kisah ini dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu waspada kepada penularan rabies, salah satunya dengan rutin memberikan vaksin kepada hewan kesayangan setidaknya setahun sekali. (TESTI PRISCILLA/H)









