BORNEONEWS, Sampit - Aksi balap liar di jalan utama Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali marak. Di antaranya di pertigaan Jl HM Arsyad-A Yani, dan juga di Jl Muhammad Hatta atau lingkar selatan. Hal tersebut terjadi hampir tiap akhir pekan yakni Sabtu malam.
Balap liar itu membuat resah pengendara yang melintas di jalan tersebut. Karena aksi tersebut sangat membahayakan bagi warga yang lewat. Apalagi jalan itu merupakan lintasan masyarakat yang ingin jalan-jalan di akhir pekannya.
“Sudah beberapa minggu ini bali kembali marak, walaupun polisi sudah sering melakukan penertiban terhadap mereka,” ujar Ehsan Zunaidi, warga yang melintas di jalan tersbeut, Minggu (4/9/2016).
Mendapati laporan warga yang resah dengan adanya aksi balap liar itu, jajaran Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Kotim pun langsung melakukan kegiatan di tempat tersebut pada Minggu (4/8/2016) dini hari. Alhasil ada lima buah motor yang mereka sita. Namun untuk pemiliknya hanya dua orang mereka tangkap.
“Hanya beberapa motor saja yang diamankan bersama pemakainya, sedangkan yang lainnya sudah ditinggal kabur pemiliknya,” ujar Kapolres Kotim AKBP Hendra Wirawan melalui Kasat Lantas AKP Boni Arifianto, Minggu (4/9/2016).
Untuk pengendara yang mereka tangkap tersebut merupakan anak di bawah umur dan statusnya juga masih pelajara di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Sampit.
"Keduanya sudah pernah kami tangkap beberapa waktu lalu, bahkan motornyapun masih kami tahan. Namun masih melakukan bali dengan menggunakan motor temannya," kata Boni.
Sedangkan, pengintaian balap liar tersebut sudah dilakukan anggotanya sejak Sabtu (3/9/2016) sekitar pukul 23.00 WIB. Dimana saat ini anggotanya melakukan surpei dengan berpakaian biasa. Setelah dilihat memang banyak yang melakukan aksi berbahaya itu. Barulah aparat dari lantas turun untuk melakukan penangkapan.
“Banyak yang berhasil kabur, namun yang pasti hal ini dilakukan untuk peringatan dan teguran bagi para pembalap liar ini,” ungkap Boni.
Dengan adanya razia tersbeut, dirinya berharap agar para pembali didaerah ini tidak lagi beraksi. Karena hal itu sangat berbahaya bagi diri sendiri dan juga orang lain. Apalagi tindakan itu taruhannya adalah nyawa. (M HAMIM/m)








