PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Grup Riset dari Universitas Palangka Raya telah berhasil mengembangkan sebuah game edukatif yang dinamakan Pusaka Borneo "Mandau". Karya ini merupakan salah satu luaran dari penelitian grup riset dengan judul proposal "Pusaka Borneo: Game Edukatif Tabela Indonesia Entitas Masyarakat Daerah Aliran Sungai".

Penelitian ini didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, DIPA-PNBP Universitas Palangka Raya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2024. Karya ini juga telah terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sebagai Hak Kekayaan Intelektual dengan nomor pencatatan 000796728.

Tim pengembang game ini terdiri dari beberapa akademisi terkemuka, yaitu Dr Misnawati, Triyani, Maryam Mustika, Dr Eli Karliani, Dony Kurniawan, dan Muh Safwan.

"Kami bekerja sama untuk menciptakan sebuah game yang tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik, dengan tujuan memperkenalkan dan melestarikan budaya serta warisan tradisional Kalimantan, khususnya budaya Suku Dayak di Kalimantan Tengah," kata Misnawati kepada Borneonews pada Minggu, 17 November 2024.

Game Edukatif Pusaka Borneo "Mandau" dirancang dalam bentuk kuis yang menggabungkan elemen pendidikan dengan hiburan. Pemain dapat belajar sambil bermain, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diambil dari sejarah mandau, senjata tradisional khas Kalimantan Tengah.

"Game ini juga memperkenalkan sejarah, cara pembuatan, fungsi, simbol, dan kegunaan mandau, sehingga pemain dapat memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya," jelas Misnawati lagi.

Salah satu fitur utama dari game ini, lanjut Misnawati, adalah cerita dan misi berbasis tradisi yang berbentuk kuis. Pertanyaan-pertanyaan dalam kuis ini diambil dari sejarah mandau yang ada di Kalimantan Tengah. Selain itu, game ini juga menggunakan musik karungut dengan latar yang mencerminkan seni dan suara tradisional Dayak Kalimantan Tengah, memberikan pengalaman bermain yang mendalam dan membuat pemain semakin mengenal dan mencintai budaya lokal.

"Game ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkaya pengetahuan pemain mengenai pentingnya menjaga warisan budaya berbentuk benda pusaka seperti mandau. Pemain diajak untuk belajar tentang kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga dapat memahami dan menghargai nilai-nilai budaya yang ada," jelasnya.

Dalam game ini, pemain tidak bisa melanjutkan permainan jika salah menjawab kuis. Hal ini menambah tantangan dan membuat pemain lebih serius dalam mempelajari materi yang disajikan. Dengan demikian, game ini tidak hanya menjadi sarana hiburan tetapi juga alat edukasi yang efektif.

"Pengembangan game edukatif seperti Pusaka Borneo Mandau ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi pengembangan media pembelajaran lainnya yang berbasis budaya lokal. Dengan memanfaatkan teknologi, budaya dan tradisi lokal dapat diperkenalkan kepada generasi muda dengan cara yang menarik dan interaktif," harapnya.

Secara keseluruhan, lanjut Misnawati, Game Edukatif Pusaka Borneo "Mandau" merupakan inovasi yang patut diapresiasi.

"Melalui game ini, Universitas Palangka Raya tidak hanya berkontribusi dalam bidang pendidikan tetapi juga dalam pelestarian budaya lokal, khususnya budaya Suku Dayak di Kalimantan Tengah," tutupnya. (TESTI PRISCILLA/j)