PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada November 2024, kelompok makanan, minuman, dan tembakau di Provinsi Kalimantan Tengah mengalami inflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 1,47 persen. Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyampaikan bahwa indeks harga konsumen atau IHK untuk kelompok ini meningkat dari 107,33 pada November 2023 menjadi 108,91 pada November 2024.

"Subkelompok rokok dan tembakau mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,49 persen, sementara subkelompok makanan mengalami inflasi terendah sebesar 0,67 persen," kata Agnes Widiastuti bersama Plh Asisten Pemerintahan dan Kesra atau Pemkesra Setda Provinsi Kalteng, Maskur menyampaikan berita resmi statistik pada Senin, 2 Desember 2024.

Agnes Widiastuti menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,56 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y antara lain Sigaret Kretek Mesin atau SKM sebesar 0,19 persen, bawang merah sebesar 0,16 persen, serta minyak goreng dan kopi bubuk masing-masing sebesar 0,09 persen. Selain itu, ikan patin, gula pasir, ikan gabus, dan tomat masing-masing memberikan andil sebesar 0,07 persen.

"Di sisi lain, beberapa komoditas memberikan andil deflasi y-on-y. Cabai rawit mencatat deflasi terbesar sebesar 0,20 persen, diikuti oleh daging ayam ras sebesar 0,19 persen, dan ikan papuyu sebesar 0,09 persen," terangnya.

Komoditas lain seperti kangkung, cabai merah, dan ikan asin sepat juga menurut Agnes berkontribusi terhadap deflasi dengan andil masing-masing sebesar 0,03 persen.

--page

Pada November 2024, kelompok ini juga memberikan andil inflasi month-to-month atau m-to-m sebesar 0,30 persen.

"Bawang merah menjadi komoditas yang dominan memberikan andil inflasi m-to-m sebesar 0,13 persen, diikuti oleh daging ayam ras sebesar 0,07 persen, serta ikan gabus dan tomat masing-masing sebesar 0,06 persen. Komoditas lain seperti ketimun, bawang putih, dan kopi bubuk masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen," bebernya.

Namun, beberapa komoditas juga memberikan andil deflasi m-to-m. Beras dan cabai rawit masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen, sementara ikan papuyu, ikan nila, dan ikan peda masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen. Komoditas lain seperti ikan tongkol, ikan lele, ikan kapar, dan cabai merah masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.

Agnes Widiastuti menekankan pentingnya memantau pergerakan harga komoditas ini untuk menjaga stabilitas ekonomi di Kalimantan Tengah.

"Kami akan terus melakukan pemantauan dan analisis agar dapat memberikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah daerah," ujarnya. (TESTI PRISCILLA/Y)