BORNEONEWS, SAmpit -- Meskipun saat ini sudah jarang terdengar adanya korban serangan buaya, namun pihak Balai Konserpasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sampit, terus melakukan himbauan kepada warga yang tinggal di pinggiran Sungai Mentaya, agar selalu waspada dengan serangan buaya.

Mengapa harus terus waspada?  Saat ini  makanan hewan tersebut mulai  menipis, sehingga sangat rawan adanya serangan dari hewan pemangsa mematikan tersebut.

“Saat ini makanan mereka memang sangat berkurang. Apalagi kegiatan illegal fishing seperti penyetruman dan menebar racun makin marak, maka populasi ikan juga akan berkurang. Sehingga makanan buaya juga berkurang,” ujar Komandan BKSDA Sampit Muriansyah, Kamis (22/9/2016).

Muriansyah menjelaskan, memang saat ini musim kawin atau dikenal dengan musim buaya mengganas sudah usai yakni mulai Agustus hingga September. Namun hal itu tidak bisa menjadi patokan bahwa hewan itu akan jinak. Karena melihat dari beberapa tahun lalu, pada November masih saja ada warga yang diserang oleh hewan predator tersebut.

“Yang pasti masyarakat yang sering beraktivitas di pinggir sungai agar berhati-hati. Karena suwaktu-waktu hewan itu bisa muncul dan menyerang warga,” ungkap Muri, sambil berharap hal itu tidak terjadi.

Dengan adanya himbauan tersebut, mayarakat yang tinggal di pinggiran Sungai Mentaya, khususnya di daerah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit, Pulau Hanaut, dan Desa Ganepo, agar selalu waspada. Karena di daerah itulah yang dikenal selama ini menjadi tempat yang sering terlihat buaya.  Sementara warga memiliki kebiasaan beraktivitas di pinggiran sungai seperti mandi, cuci, dan mencari ikan.  (MH/*)