PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Laporan kinerja Bank Perkreditan Rakyat atau BPR dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah atau BPRS di Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan pencapaian yang menggembirakan pada bulan Januari 2025 dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Berbagai indikator keuangan utama mencatatkan pertumbuhan positif, meskipun ada peningkatan angka kredit macet.

"Salah satu aspek paling mencolok adalah peningkatan aset yang mencapai Rp2,49 triliun pada Januari 2025, naik Rp170,82 miliar atau 7,37 persen dibandingkan Januari 2024 yang sebelumnya tercatat sebesar Rp2,32 triliun," kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Kalteng, Primandanu Febriyan Aziz baru-baru ini.

Hal ini disampaikan Primandanu dalam Media Update Batang Garing atau Berbagi Berita tentang Perkembangan Industri Jasa Keuangan, Sosialiasi Pengenalan Pasar Modal Indonesia dan Halal Bihalal bersama insan pers pada Rabu, 16 April 2025.

Memimpin kegiatan ini Kepala Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Kalteng, Primandanu Febriyan Aziz serta Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia atau BEI Kalimantan Tengah, Stephanus Cahyo Adiraja menyampaikan sosialisasi pasar modal.

"Pertumbuhan aset ini menjadi bukti nyata bahwa BPR dan BPRS di wilayah tersebut mampu mengelola sumber daya dengan baik dan meningkatkan kepercayaan nasabah," tuturnya.

--page

Selain itu, lanjut Primandanu, Dana Pihak Ketiga atau DPK juga mengalami kenaikan signifikan. Pada Januari 2025, jumlah DPK mencapai Rp1,42 triliun, tumbuh sebesar Rp80,40 miliar atau 5,99 persen dari angka sebelumnya yang berada di Rp1,34 triliun. Peningkatan ini mencerminkan keberhasilan institusi keuangan tersebut dalam menarik dana masyarakat.

"Kredit atau pembiayaan yang disalurkan oleh BPR dan BPRS juga menunjukkan tren positif, dengan lonjakan sebesar atau 12,48 persen," bebernya.

Pada Januari 2025, total kredit yang tersalurkan mencapai Rp2,05 triliun, dibandingkan dengan Rp1,82 triliun pada Januari 2024. Hal ini mengindikasikan pertumbuhan aktivitas ekonomi yang didukung oleh pembiayaan yang lebih besar.

"Namun, di balik pertumbuhan yang signifikan tersebut, tingkat kredit macet atau Non-Performing Loan atau NPL dan Non-Performing Financing atau NPF mengalami peningkatan. Pada Januari 2025, rasio NPL/NPF mencapai 4,73 persen, naik 1,69 persen dari posisi 3,04 persen pada Januari 2024. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi pengelola BPR dan BPRS untuk menjaga kualitas kredit yang disalurkan," jelasnya.

Secara keseluruhan, kinerja BPR dan BPRS di Provinsi Kalimantan Tengah pada Januari 2025 menggambarkan pertumbuhan yang solid di berbagai sektor, meskipun tantangan berupa peningkatan NPL/NPF harus menjadi fokus utama dalam pengembangan ke depan. Perbaikan strategi pengelolaan risiko diperlukan agar pertumbuhan positif dapat berkelanjutan.

Dengan capaian tersebut, BPR dan BPRS diharapkan dapat terus berkontribusi pada perekonomian lokal, mendukung usaha kecil dan menengah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Tengah. Pemerintah daerah dan pelaku industri perlu bersinergi untuk memastikan sektor keuangan tetap stabil dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. (TESTI PRISCILLA/Y)