BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada Februari 2025, Kalimantan Tengah mencatatkan komoditas utama impor berupa mesin lainnya, yang termasuk dalam kelompok mesin/pesawat mekanik.

Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa nilai impor kelompok mesin/pesawat mekanik mencapai US$0,94 juta, diikuti oleh kelompok bahan bakar mineral berupa aspal senilai US$0,71 juta.

Dibandingkan dengan Januari 2025, secara umum terjadi penurunan nilai impor sebesar US$2,53 juta atau turun 60,53 persen. Penurunan paling signifikan tercatat pada kelompok pupuk, dengan nilai turun sebesar US$1,42 juta.

"Penurunan ini menunjukkan adanya pengurangan kebutuhan impor pada beberapa komoditas utama," ujar Agnes pada Kamis, 17 April 2025.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, Februari 2024, tren penurunan nilai impor terus berlanjut. Kelompok mesin/pesawat mekanik mengalami penurunan tertinggi sebesar US$2,43 juta atau turun 72,11 persen.

"Sedangkan, bahan bakar mineral mencatatkan penurunan sebesar US$1,86 juta atau turun 72,37 persen," katanya.

Agnes menambahkan, secara kumulatif selama Januari-Februari 2025, nilai impor Kalimantan Tengah tercatat turun sebesar US$12,66 juta atau setara dengan 68,47 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024.

"Penurunan paling besar berasal dari kelompok mesin/pesawat mekanik yang merosot hingga US$12,31 juta atau turun 90,51 persen," terang Agnes.

Penurunan impor ini dapat menjadi cerminan dari perubahan kebutuhan industri lokal atau adanya substitusi impor dengan produk domestik.

"Hal ini sekaligus menunjukkan tantangan yang harus dihadapi untuk mempertahankan daya saing regional," imbuh Agnes.

Secara keseluruhan, tren penurunan impor di Kalimantan Tengah pada awal tahun ini dapat menjadi indikator penting bagi pemangku kebijakan untuk mengkaji strategi yang lebih efektif dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan kebutuhan lokal. (TESTI PRISCILLA/H)