PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam pemaparannya di kegiatan Teknis Kelapa Sawit atau TKS dan Field Trip di Sampit, Senin, 28 April 2025, Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Dr Rawing Rambang menggarisbawahi peran penting kelapa sawit dalam mendukung ketahanan energi nasional. Ia menilai bahwa sawit memiliki potensi besar sebagai sumber bahan baku bioenergi, terutama dengan adanya program biodiesel B40 yang semakin berkembang. Menurut Rawing, program ini tidak hanya meningkatkan kemandirian energi nasional tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Rawing menjelaskan bahwa ketahanan energi merupakan salah satu aspek fundamental bagi keamanan nasional dan pembangunan berkelanjutan.

“Sawit bisa memberikan kontribusi besar di sini, sebagai sumber energi terbarukan yang mendukung stabilitas energi jangka panjang,” kata Rawing kepada Borneonews.

Ia menekankan bahwa integrasi kelapa sawit dalam strategi energi nasional dapat menjadi solusi bagi berbagai tantangan energi yang dihadapi Indonesia.

Namun, Rawing juga menyoroti pentingnya konsistensi kebijakan dalam mendukung pengembangan sektor sawit. Ia mengingatkan bahwa perubahan kebijakan yang tidak terprediksi dapat menjadi penghalang bagi investasi.

--page

“Negara maju memprioritaskan konsistensi dalam visi misinya. Jika kebijakan sering berubah, investor menjadi ragu untuk berinvestasi di sektor ini, bahwa kejelasan dan stabilitas regulasi akan meningkatkan kepercayaan pelaku usaha,” tegas Rawing.

Selain kebijakan yang konsisten, Rawing menekankan pentingnya alokasi anggaran yang memadai untuk riset dan inovasi di bidang kelapa sawit.

“Penelitian itu mahal, tapi wajib. Di negara maju, anggaran riset bisa mencapai 5 persen dari GDP, dan ini menjadi kunci keunggulan mereka. Indonesia harus mulai mengadopsi kebijakan serupa untuk sektor sawit dan pertanian,” katanya.

Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini percaya bahwa investasi dalam penelitian akan menghasilkan teknologi baru yang dapat mendorong efisiensi produksi dan keberlanjutan.

Ia juga mengajak semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, industri, dan masyarakat, untuk bekerja sama dalam menyukseskan program replanting kelapa sawit dan mendukung ketahanan pangan serta energi nasional.

“Dukungan yang terpadu dari semua pihak akan memastikan bahwa potensi kelapa sawit dapat dimaksimalkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” ungkap Dosen Universitas Kristen Palangka Raya ini penuh optimistis.

Di akhir pemaparannya, Rawing menggarisbawahi urgensi untuk terus memperkuat penelitian dan kolaborasi antara berbagai pihak dalam upaya mendorong inovasi dan efisiensi di sektor kelapa sawit. Menurutnya, dengan pendekatan yang terstruktur dan visi yang jelas, Indonesia dapat menjadi pemimpin global dalam pengelolaan kelapa sawit yang berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/y)