BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Yuliansyah Andrias, mengungkapkan bahwa salah satu penyumbang inflasi pada April 2025 adalah normalisasi harga tarif listrik.
Hal ini terjadi setelah berakhirnya program diskon 50 persen untuk pelanggan pascabayar dengan daya di bawah 2200 VA yang diberlakukan pada Januari hingga Februari 2025.
“Program diskon tarif listrik sebesar 50 persen pada awal tahun memang memberikan keringanan bagi masyarakat. Namun, ketika tarif kembali normal pada Maret dan April, terjadi penyesuaian yang ikut mendorong laju inflasi, khususnya di bulan April,” jelas Yuliansyah dalam keterangannya, Jumat 9 Mei 2025.
Kebijakan diskon tarif tersebut sebelumnya diberikan sebagai bentuk stimulus pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat di awal tahun.
Namun, begitu masa insentif berakhir, biaya listrik yang kembali ke tarif semula memberikan tekanan pada pengeluaran rumah tangga, terutama di kelompok konsumen pascabayar.
--page
Yuliansyah menambahkan bahwa BI terus memantau berbagai faktor yang mempengaruhi inflasi, baik dari sisi harga pangan, energi, maupun komoditas lainnya.
“Kami bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus berupaya menjaga stabilitas harga agar inflasi tetap berada dalam kisaran yang terkendali,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, penyedia energi, dan lembaga terkait untuk menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok dan utilitas dasar masyarakat. (MARINI/y)









