BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Yuliansah Andrias, menyampaikan bahwa salah satu faktor utama penyumbang inflasi di Kalteng pada bulan Juni 2025 adalah kenaikan harga cabai rawit.
Kenaikan ini disebabkan oleh menurunnya produktivitas petani akibat perubahan musim dan berakhirnya masa panen.
“Turunnya produktivitas cabai rawit karena faktor cuaca dan siklus panen menjadi penyebab utama kenaikan harga di pasaran. Kondisi ini berdampak langsung terhadap tingkat inflasi di daerah,” ujar Yuliansah, Senin 7 Juli 2025.
Menurut Yuliansah, pasokan cabai rawit di pasar lokal menurun signifikan, sementara permintaan tetap tinggi. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan tersebut mendorong harga cabai rawit mengalami lonjakan, yang kemudian turut menyumbang laju inflasi bulanan di Kalteng.
Selain cabai rawit, beberapa komoditas lain seperti bawang merah dan angkutan udara juga tercatat memberikan andil terhadap inflasi. Namun demikian, cabai rawit menjadi sorotan karena fluktuasi harganya yang cukup tajam dalam waktu singkat.
Bank Indonesia bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus berupaya menjaga kestabilan harga melalui berbagai strategi pengendalian, seperti menjaga ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, dan melakukan operasi pasar apabila diperlukan.
“BI dan TPID akan terus memantau perkembangan harga di pasar, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mengendalikan inflasi, khususnya menjelang momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan musim kemarau,” tambah Yuliansah.
Dengan langkah-langkah antisipatif tersebut, diharapkan inflasi di Kalteng dapat tetap terkendali dan tidak membebani daya beli masyarakat. (MARINI/H)









