BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menegaskan pentingnya peran strategis Bank Perkreditan Rakyat atau BPR dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah atau BPRS dalam menopang pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika regional dan nasional.
Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Evaluasi Kinerja dan Capacity Building BPR dan BPRS Tahun 2025 yang digelar pada 28–29 Juli di Pangkalan Bun.
“BPR dan BPRS merupakan lokomotif keuangan rakyat yang harus mampu bergerak cepat dan tangguh menghadapi tantangan,” ujar Primandanu dalam rilisnya pada Rabu, 30 Juli 2025.
Menurutnya, relevansi dan daya saing institusi keuangan lokal hanya dapat dijaga melalui transformasi menyeluruh, khususnya dengan penerapan tata kelola yang baik (good governance) sebagai fondasi utama.
Melalui kegiatan ini, OJK Kalteng tidak hanya memaparkan capaian dan evaluasi kinerja BPR dan BPRS di Kalimantan Tengah dibandingkan tren nasional, tetapi juga mengangkat isu-isu strategis yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pimpinan bank, seperti peningkatan efisiensi operasional dan mitigasi risiko.
Primandanu juga menyampaikan sejumlah rekomendasi penting bagi penguatan struktur bisnis dan manajerial BPR dan BPRS.
“Di sini pentingnya konsistensi dalam pengawasan internal, adaptasi terhadap kebijakan terkini, serta perbaikan layanan berbasis teknologi demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi keuangan lokal,“ katanya.
Sebagai bagian dari strategi akselerasi, OJK mendorong digitalisasi sebagai kunci untuk menjangkau lebih luas segmen ekonomi rakyat dan pelaku UMKM. Primandanu menyebutkan bahwa digitalisasi tidak hanya memperkuat efisiensi, tetapi juga membuka peluang ekspansi dan inovasi produk keuangan yang dibutuhkan masyarakat.
“Transformasi BPR dan BPRS bukan hanya tentang modernisasi sistem, tetapi juga perbaikan nilai-nilai tata kelola dan keberpihakan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/H)









