BORNEONEWS, Palangka Raya - Kelompok pengeluaran kesehatan di Provinsi Kalimantan Tengah mengalami inflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 1,43 persen pada Juli 2025. Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, angka ini menunjukkan kenaikan indeks dari 103,16 pada Juli 2024 menjadi 104,64 pada Juli 2025.
Agnes menjelaskan bahwa seluruh subkelompok dalam kategori kesehatan mengalami inflasi, dengan subkelompok jasa kesehatan lainnya mencatatkan kenaikan paling tinggi yaitu 8,34 persen.
“Lonjakan ini terutama dipicu oleh peningkatan biaya layanan di beberapa fasilitas kesehatan,” ujar Agnes pada Senin, 4 Agustus 2025.
Kontribusi kelompok kesehatan terhadap inflasi y-on-y Kalimantan Tengah tercatat sebesar 0,03 persen. Meskipun tidak menjadi faktor dominan, komoditas seperti tarif check up dan tarif layanan bidan masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen terhadap kenaikan tersebut.
“Meski kenaikannya tidak terlalu besar secara keseluruhan, namun subkelompok seperti jasa kesehatan menunjukkan dinamika harga yang perlu dicermati lebih lanjut, khususnya untuk pengendalian harga layanan dasar,” tambah Agnes.
Menariknya, data BPS menunjukkan bahwa kelompok kesehatan tidak memberikan andil signifikan terhadap inflasi month-to-month (m-to-m) pada Juli 2025. Hal ini mengindikasikan kestabilan harga dalam periode satu bulan terakhir meskipun secara tahunan mengalami kenaikan.
BPS Kalimantan Tengah mendorong stakeholder terkait untuk memperhatikan tren harga sektor kesehatan, terutama jasa-jasa yang mengalami peningkatan signifikan.
“Kita perlu menjaga agar inflasi sektor ini tidak mengganggu akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas,” tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA/y)









