PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah kembali melaksanakan kegiatan pengambilan data untuk penyusunan Peta Kebinekaan Bahasa dan Sastra. Kali ini, tim peneliti terjun langsung ke Desa Pangkut, Kabupaten Kotawaringin Barat selama lima hari.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian dan pemetaan kekayaan bahasa serta sastra daerah di Kalimantan Tengah.

Kepala Balai Bahasa Kalteng, Sukardi Gau, menjelaskan bahwa pengambilan data dilakukan secara intensif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi langsung di lapangan.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap bahasa dan karya sastra yang hidup di masyarakat dapat tercatat dan diakui sebagai bagian dari warisan budaya bangsa,” kata Sukardi pada Jumat, 22 Agustus 2025.

Dari hasil pengumpulan data, diketahui bahwa masyarakat Desa Pangkut masih aktif menggunakan bahasa Tomun dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa ini tidak hanya digunakan dalam komunikasi antarwarga, tetapi juga dalam berbagai kegiatan adat dan tradisi lokal. Keberadaan bahasa Tomun menjadi bukti nyata bahwa bahasa daerah masih memiliki tempat penting dalam identitas masyarakat setempat.

Selain bahasa, tim Balai Bahasa juga menemukan bahwa masyarakat Desa Pangkut masih melestarikan karya sastra tradisional. Bentuknya beragam, mulai dari cerita rakyat, pantun, hingga ungkapan adat yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

“Sastra tradisional di sini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan dan penguatan nilai-nilai budaya,” tambah Sukardi.

Data dan informasi yang dihimpun dari Desa Pangkut akan menjadi bagian penting dalam penyusunan Peta Kebinekaan Bahasa dan Sastra. Peta ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam merancang kebijakan pelestarian bahasa dan sastra daerah. Selain itu, peta tersebut juga akan memperkuat posisi bahasa daerah sebagai aset budaya yang perlu dijaga dan dikembangkan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Balai Bahasa Kalteng untuk terus mendukung keberagaman bahasa dan sastra di wilayah Kalimantan Tengah.

“Dengan dokumentasi yang sistematis dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan kekayaan bahasa dan sastra lokal dapat terus hidup dan memberi kontribusi bagi pembangunan kebudayaan nasional,“ tuturnya. (TESTI PRISCILLA/H)