PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan demi pengembangan bahasa dan sastra di daerah.

Dalam dua hari berturut-turut Balai Bahasa menerima sejumlah kunjungan strategis dari lembaga-lembaga mitra yang berperan penting dalam pendidikan, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Baru-baru ini Balai Bahasa menerima kunjungan dari Lembaga Perempuan Dayak Kota Palangka Raya yang membahas potensi kolaborasi dalam pelestarian bahasa daerah berbasis komunitas perempuan. Di hari yang sama, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Palangka Raya juga menyampaikan permintaan data kebahasaan untuk mendukung pengembangan koleksi literasi lokal.

Selain itu, Balai Bahasa melaksanakan penandatanganan pelaksanaan kerja sama dengan Unit Pelaksana Akademik atau UPA Universitas Palangka Raya, sebagai langkah konkret dalam memperkuat sinergi akademik dan riset kebahasaan.

Keesokan harinya, Balai Bahasa menerima kunjungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kapuas. Pertemuan tersebut membahas persiapan Festival Tunas Bahasa Ibu atau FTBI yang akan digelar dalam waktu dekat, serta perencanaan anggaran untuk kegiatan kebahasaan tahun mendatang. FTBI sendiri merupakan ajang penting dalam menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa daerah dan sastra lokal.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Suakrdi Gau, dalam wawancara pada 19 Oktober 2025, menegaskan bahwa rangkaian kegiatan ini mencerminkan semangat kolaboratif yang terus dijaga.

“Kami percaya bahwa penguatan bahasa dan sastra tidak bisa dilakukan sendiri. Sinergi dengan lembaga pendidikan, komunitas, dan pemerintah daerah adalah kunci untuk menjaga keberlanjutan dan relevansi bahasa daerah di tengah arus globalisasi,” ujarnya.

Suakrdi juga menambahkan bahwa Balai Bahasa akan terus membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat sipil dan lembaga adat.

"Pelestarian bahasa bukan hanya soal dokumentasi, tetapi juga soal keberdayaan masyarakat dalam menggunakan dan menghidupkan bahasa mereka sendiri dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Langkah-langkah yang diambil Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah ini menjadi bukti nyata bahwa lembaga tersebut aktif menjalin kerja sama dan mengedepankan kolaborasi demi penguatan bahasa dan sastra di daerah. Dengan dukungan lintas sektor, Balai Bahasa optimis dapat menciptakan ekosistem kebahasaan yang inklusif, berkelanjutan, dan berakar pada kearifan lokal. (TESTI PRISCILLA/H)