BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 3,69 persen pada Oktober 2025.
Angka ini mencerminkan peningkatan indeks harga dari 108,06 pada Oktober 2024 menjadi 112,05 pada Oktober 2025.
Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa kelompok ini menjadi salah satu penyumbang utama inflasi di provinsi tersebut dengan andil sebesar 1,43 persen.
“Inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau didorong oleh kenaikan harga sejumlah komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat, seperti daging ayam ras, rokok kretek, dan bawang merah,” kata Agnes pada Jumat, 7 November 2025.
Secara rinci, subkelompok minuman tidak beralkohol menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan laju 6,16 persen secara tahunan. Sementara itu, subkelompok makanan mencatat inflasi paling rendah, yakni 3,34 persen.
"Pergerakan harga di kedua subkelompok ini cukup berpengaruh terhadap kestabilan inflasi di Kalimantan Tengah, terutama karena sebagian besar komoditasnya termasuk kebutuhan pokok harian,” jelas Agnes.
Komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi tahunan antara lain daging ayam ras sebesar 0,20 persen, Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 0,17 persen, bawang merah sebesar 0,14 persen, kopi bubuk 0,12 persen, serta beras 0,10 persen. Selain itu, minyak goreng, telur ayam ras, mie instan, dan sayuran seperti kangkung juga turut memberikan sumbangan terhadap inflasi. Sebaliknya, beberapa komoditas mengalami penurunan harga sehingga menekan inflasi, antara lain ikan nila (deflasi 0,17 persen), ikan kapar, bawang putih, ayam hidup, dan tomat.
Jika dilihat secara bulanan (month-to-month/m-to-m), kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat andil inflasi sebesar 0,30 persen pada Oktober 2025. Kenaikan harga daging ayam ras (0,10 persen), ikan gabus (0,09 persen), beras dan telur ayam ras (masing-masing 0,05 persen) menjadi faktor utama pendorong inflasi bulanan. Adapun komoditas yang menahan laju inflasi m-to-m antara lain bawang merah (-0,05 persen), cabai rawit (-0,04 persen), dan tomat (-0,02 persen).
Agnes menambahkan, pergerakan harga pangan di Kalimantan Tengah pada Oktober masih relatif terkendali meskipun terdapat tekanan dari beberapa komoditas unggulan.
“Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya stabilisasi harga, terutama untuk bahan pangan strategis yang berpengaruh besar terhadap pengeluaran rumah tangga,” pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/H)









