BORNEONEWS, Palangka Raya - Kelompok pendidikan menjadi salah satu penyumbang inflasi yang cukup signifikan di Provinsi Kalimantan Tengah pada Oktober 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, kelompok ini mengalami inflasi year on year (y-on-y) sebesar 2,35 persen, dengan kenaikan indeks dari 106,40 pada Oktober 2024 menjadi 108,90 pada Oktober 2025.
Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa laju inflasi pada kelompok pendidikan mencerminkan adanya peningkatan biaya pendidikan di berbagai jenjang, terutama pada awal tahun ajaran baru.
“Inflasi di kelompok pendidikan cenderung tinggi karena adanya penyesuaian biaya pendidikan, seperti uang sekolah dan biaya administrasi di berbagai tingkat pendidikan,” kata Agnes pada Jumat, 7 November 2025.
Menurut Agnes, subkelompok pendidikan dasar dan anak usia dini mencatat inflasi tertinggi, yakni 3,72 persen, yang menandakan kenaikan biaya signifikan pada jenjang sekolah dasar (SD) dan taman kanak-kanak (TK).
“Sementara itu, inflasi terendah terjadi pada subkelompok pendidikan lainnya yang hanya mencapai 1,05 persen,” tambahnya.
Secara keseluruhan, kelompok pendidikan memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,08 persen terhadap inflasi umum Kalimantan Tengah pada Oktober 2025. Beberapa komoditas yang memberikan kontribusi terbesar berasal dari biaya akademi atau perguruan tinggi (0,03 persen), serta biaya sekolah dasar, taman kanak-kanak, dan sekolah menengah atas yang masing-masing menyumbang 0,02 persen.
Agnes juga mengungkapkan bahwa secara bulanan (month to month), kelompok pendidikan memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen, yang terutama disebabkan oleh kenaikan biaya pada jenjang perguruan tinggi.
“Kenaikan ini sejalan dengan momen pembayaran biaya pendidikan semester baru yang umumnya terjadi pada periode tersebut,” jelasnya.
Dengan inflasi di subsektor pendidikan yang tergolong tinggi, BPS menilai perlunya perhatian terhadap biaya pendidikan agar tidak terlalu membebani masyarakat.
“Peningkatan kualitas pendidikan memang penting, namun kestabilan harga dan keterjangkauan biaya juga perlu dijaga agar akses masyarakat terhadap pendidikan tetap terbuka luas,” pungkas Agnes Widiastuti. (TESTI PRISCILLA/H)









